Monday, April 6, 2009

Kembali ke Film

Beberapa bulan belakangan ini saya kehilangan minat menonton film, baik film yang sedang tayang di bioskop, film dari koleksi dvd (yang sebagian besar bajakan), bahkan film yang diputar stasiun televisi swasta. Seingat saya, Pintu Terlarang adalah film terakhir yang saya nikmati. Itu pun hanya karena penasaran bagaimana Joko Anwar menerjemahkan novel Sekar Ayu Asmara dalam bentuk audio visual.

Akhir pekan kemarin keinginan itu muncul begitu saja. Yup, tiba-tiba saya kangen nonton film! Pilihan pertama jatuh ke trilogi The Lord of The Ring (LOTR), satu-satunya film yang telah mencatat rekor sebagai "Film yang Paling Sering Saya Tonton". Sudah tak terhitung, mungkin sudah puluhan kali. :D DVD Extended Edition-nya berdurasi sekitar empat jam untuk masing-masing judul. Total sekitar dua belas jam. Mantaaapp deh...! Ini beberapa scene favorit saya,



Selanjutnya mata saya dimanjakan oleh warna-warni indah dan tempat-tempat menakjubkan dari berbagai pelosok kolong langit. Juga si chubby menggemaskan Cantika Untaru. The Fall. Nah, film ini diprediksi bakal mengejar rekor yang dicatat trilogi LOTR sebagai "Film yang Paling Sering Saya Tonton". :D

Masih belum puas juga, film yang berhasil mempecundangi Kung Fu Panda di ajang Golden Globe dan Academy Award tahun ini, WALL-E, ikut melengkapi akhir pekan kali ini. Mungkin telah belasan kali film ini saya tonton tapi pasti akan lagi, lagi, dan lagi. Bakal jadi pesaing berat The Fall, hehehe...

Petualangan Jason Bourne menutup akhir pekan ini. sayangnya, keasyikan saya terhenti di film kedua, Bourne Supremacy, karena kantuk yang tak tertahankan.

Hmm… benar-benar akhir pekan yang menyenangkan ditemani film-film favorit, ditambah sekitar 200 halaman Brisingr (buku ketiga serial Inheritance-nya Christopher Paolini) plus beberapa lap dari Malaysian Grand Prix sebelum bendera merah dikibarkan.

Berikutnya mengeksekusi film apa ya? :)

Wednesday, April 1, 2009

Nama Baru Tampilan Lama

Loh, kemana My Sweet Dreams? Apakah mimpi-mimpinya sudah menjadi nightmare? Tidak. Sebelum saya beritahu alasan di balik hilangnya My Sweet Dreams, saya akan sedikit berbagi cerita tentang nama blog ini.

Setahun yang lalu blog ini tercipta, sekedar iseng-iseng membuat blog di internet (sebelumnya ada dua blog di intranet instansi - yang kemudian berakhir mengenaskan karena semua situs "swasta" diblokir oleh kantor pusat). Saya bilang iseng-iseng mengingat saya terkoneksi dengan internet hanya di jam kerja dengan mencuri waktu dan fasilitas kantor. Ditambah lagi koneksi tersebut kurang memadai alias angot-angotan alias sering disconnect. :P

Saking isengnya, judul dan alamat blognya pun saya ambil dari hal-hal yang pertama kali terlintas di pikiran pada saat itu. Nama Sweet Dreams saya ambil dari sebuah lagu ceria milik Jang Na Ra. Ini sebagian liriknya:
it's gonna be another day with the sunshine
haet sal eun na eui chang eul pak keh pi choo go
pan cheum noon eul deot seul taen keu dae mi soh ga
na reul pan kyo yo

Saya suka lagu ini meski gak tau arti keseluruhan liriknya karena sebagian besar adalah bahasa Korea. Apalagi video clip-nya lucu. :D

Sebelum menggunakan alamat url yang sekarang, saya menggunakan alamat http://dejiko-sweetdreams.blogspot.com. Dejiko itu apa? Dejiko itu siapa? Dejiko atau Di Gi Charat adalah tokoh utama dalam anime berjudul sama. Seorang gadis ceria dan bersemangat dan sering melakukan hal-hal konyol. Agak-agak mirip sama yang punya blog, hehehe...

Itu sekilas cerita tentang asal-muasal penggunaan nama Dejiko dan Sweet Dreams sebagai alamat url serta judul blog. Setelah vakum berbulan-bulan setelah mendaftar di blogspot, saya mulai menulis di sini awal September tahun lalu. Dari Februari hingga September? Bukan waktu yang singkat. Kemana saja yah saya selama itu? :D

Beberapa waktu lalu saya mengganti alamat blog ini untuk memudahkan teman-teman yang berminat mampir di sini. Jadilah nama beken saya, melskijutex, menggantikan dejiko-sweetdreams. Hasilnya... blog ini tetep sepi pengunjung! :D

Lalu kenapa My Sweet Dreams juga akhirnya dilengserkan sebagai judul blog? Hanya satu jawabnya, karena saya ingin blog ini lebih beraroma Indonesia. Nasionalis? Ah, itu terserah pendapat yang membaca. Yang jelas saya hanya ingin berusaha menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam tulisan-tulisan saya.

Judul baru Menulis Sajalah tak lepas dari maksud awal saya membuat blog ini, sebagai tempat untuk belajar menulis. Semoga dengan nama baru ini saya menjadi lebih bersemangat untuk menulis, menulis dan menulis.

Saturday, March 28, 2009

The Secrets of The Immortal Nicholas Flamel # 2

The Magician (Terj.)
Michael Scott
Penerbit Matahati
Maret 2009

Rombongan kecil itu tiba di Paris, kota kelahiran sang Alchemyst. Mereka telah lolos dari sergapan Dee sesaat setelah Sophie memperoleh keahlian Sihir Udara dari Penyihir Endor. Jalur ley di rumah penyihir itu membawa mereka ke kota ini, di dalam gudang di salah satu gerejanya. Tapi mereka belum bisa bernapas lega. Dee telah menghubungi Nicollo Michiavelli, sesama orang abadi yang juga mengabdi kepada salah satu Elder. Machiavelli yang merupakan Kepala Intelijen mengerahkan seluruh anak buahnya untuk menangkap mereka berempat. Sekali lagi mereka lolos setelah Sophie mengerahkan kemampuan Sihir Udaranya. Mereka bertemu dengan Saint Germain yang pernah menjadi murid sang Alchemyst. Saint Germain, yang kini menggunakan nama Germain sebagai nama populernya sebagai penyanyi beraliran techno, membawa mereka ke salah satu kediamannya dan memperkenalkan istrinya, Joan of Arc.

Dee dan Machiavelli tak tinggal diam. Dagon, asisten Machiavelli, sebenarnya ingin membunuh Scatty tapi ditahan oleh bosnya. Mereka justru mengundang para Disir atau Valkyrie untuk menangkap Scatty. Tiga orang Disir yang datang membawa serta Niddhog, makhluk raksasa berwujud gabungan antara kadal dengan ular, yang terbebas saat Ygdrasill dan Alam Bayangan Hekate hancur (baca The Alchemyst). Josh dan Scatty menghadapi makhluk ini sementara di ruangan lain Sophie dan Joan berhadapan dengan dua Disir yang akhirnya berhasil dilumpuhkan. Niddhog berhasil menculik Scatty dan Josh mengejarnya setelah berhasil menggoreskan Clarent, kembaran Excalibur, ke ekor makhluk itu. Disir yang tersisa berlari di belakang Niddhog dan tidak menyadari kehadiran Josh.
Paris terbangun, alarm rumah dan mobil bersahut-sahutan karena kerusakan yang ditimbulkan Niddhog. Anehnya tak banyak orang yang berlalu-lalang di jalanan. Machiavelli telah menutupi semua kejadian ini termasuk keberadaan Niddhog. Dia dan Dee “menyelamatkan” Josh saat dia bertempur melawan Disir terakhir. Mereka membawa Josh ke Catacomb Paris, tempat salah satu Elder berdiam, Mars. Mereka meminta Mars untuk membangkitkan kekuatan Josh.
Sementara itu di bagian dunia yang lain, Perenelle berusaha melarikan diri dari Alcatraz. Sphinx yang menjaga selnya telah menyedot seluruh kekuatan sihirnya. Tapi dia terlahir dengan kekuatan lain, dapat melihat dan berbicara dengan hantu. Dia meminta hantu de Ayala untuk membantunya menjauhkan Sphinx agar kekuatannya pulih. De Ayala juga menunjukkan sebuah terowongan tempat suatu makhluk ditahan oleh Dee. Perenelle bekerja sama dengan Elder berwujud laba-laba itu untuk menghadapi Morrigan dan pasukan gagakknya yang dikirim Dee.

Fyuh… lagi-lagi saya dibuat ngos-ngosan mengikuti perjalanan rombongan sang Alchemyst. Masih seru seperti buku sebelumnya dan masih menyajikan makhluk-makhluk dalam legenda dan mitos serta tokoh-tokoh nyata. Siapa tak kenal Joan of Arc?
Di sini Josh banyak menunjukkan iri hatinya terhadap kekuatan kembarannya yang telah dibangkitkan. Apalagi setelah Sophie memperoleh keahlian Sihir Udara dari Penyihir Endor dan Sihir Api dari Saint Germain. Dia sangat ingin dibangkitkan agar dia bisa sejajar lagi dengan Sophie. Dia pun tetap tak percaya sepenuhnya kepada sang Alchemyst.

Penasaran bakal seperti apa dongeng selanjutnya. The Sorceress baru akan diterbitkan bulan Mei 2009. Kapan yah masuk terjemahannya dirilis?


Roman Sejarah dari Mbah Pram

Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer
Penerbit Lentera Dipantara
535 halaman
Cetakan 13, Mei 2008

Seorang pribumi yang beruntung dapat bersekolah di HBS Surabaya di masa di mana bangku sekolah hanya boleh diduduki orang-orang Eropa Totok atau Indo. Dialah Minke, anak seorang bupati yang bahkan tidak mau mengakui darah priyayinya. Di luar jam sekolah, Minke mencari order usaha furnitur yang dirintisnya bersama Jean Marais, bekas tentara kolonial berdarah Perancis. Minke juga menulis untuk koran berbahasa Belanda dan tulisannya mendapat komentar positif di masyarakat.

Minke sangat mengidolakan salah satu gurunya, Magda Peters, dan menganggap wanita itu pintar dan memiliki wawasan yang luas. Namun saat bertemu dan berbincang dengan Nyai Ontosoroh Minke segera mengetahui bahwa dirinya sangat terkesan dengan wanita tersebut. Terkesan dengan wawasan sang Nyai dan bagaimana perjuangannya menjalankan perusahaan Mellema. Adalah Annelies, anak kedua Nyai dari perkawinan tidak sahnya dengan Herman Mellema, yang kemudian membuat Minke rela menghadapi berbagai masalah. Dia jatuh cinta dengan gadis Indo itu, demikian juga sebaliknya. Nyai meminta Minke untuk tinggal di rumah mereka. Permintaan ini didukung Dokter Martinet yang menyatakan bahwa pasiennya, Annelies, hanya akan sembuh apabila dirawat oleh Minke.
Ayah Minke murka mendengar kabar bahwa putranya tinggal di rumah seorang Nyai. Sang bupati tak lagi menganggap Minke sebagai putranya meski kemudian Residence B terkesan dengan putranya itu.
Kembali ke Wonokromo, kediaman Nyai Ontosoroh, Minke mendapati bahwa jiwanya terancam. Robert Mellema, anak pertama Nyai, merasa kedudukannya di rumah itu tergeser oleh kehadiran Minke. Tak hanya jiwanya yang terancam, kelangsungan studinya pun di ujung tanduk. Ditambah lagi persidangan atas kematian Tuan Mellema dan Kondisi Annelies makin lemah. Masalah seolah tak pernah lepas dari kehidupan Minke.

Ini adalah buku pertama dari Mbah Pram yang saya baca, buku pertama dari roman tetralogi Bumi Manusia. Saya tak menemukan alasan mengapa buku yang dianggap kekirian ini sempat dilarang terbit di tahun 1980-an. Padahal di negara lain buku ini telah diterbitkan dalam puluhan bahasa dan mendapat berbagai penghargaan.
Membaca buku ini saya seolah-olah di bawa ke jaman kolonial, jaman penjajahan Belanda. Jiwa muda Minke berontak ingin melepas kejawaannya. Minke mendapatkan pendidikan dan peradaban dari guru-gurunya, orang-orang Eropa, sehingga berpikir dan bertindak seperti orang-orang itu.Dia begitu mengagungkan hal itu bahkan ibunya sendiri menyatakan bahwa dia bukan lagi seorang Jawa. Kemudian dia dihadapkan dengan kenyataan bahwa tak semua yang dibawa orang-orang Eropa itu baik.
Yang menjadi tokoh sentral dalam buku ini adalah Nyai Ontosoroh. Seorang istri tidak sah seorang mantan pejabat kolonial Belanda yang berjuang menjaga kelangsungan hidup perusahaan suaminya yang hampir tak pernah pulang ke kediamannya. Juga perjuangannya saat mempertahankan haknya atas harta peninggalan suaminya serta atas perwalian anak mereka.

Ada kalimat yang cukup menarik di halaman 498 yang diucapkan Dokter Martinet saat berbincang dengan Minke perihal masalah perwalian Annelies.

“Tadinya aku sangka: satu-satunya kesulitan dalam hidup hanya urusan pajak. Tak pernah aku tahu ada kesulitan semacam ini di kolong langit.”

Ternyata dari dulu pajak menjadi momok bagi semua orang, hehehe… “D


Monday, March 23, 2009

Teman Jadi Caleg

Kabar itu saya dengar awal Desember tahun lalu dari seorang kawan. Ojlenk, demikian kami memanggilnya selama ini. Bukan nama sebenarnya memang, tapi di kalangan teman-teman sekolah dan teman-teman mainnya nama itulah yang dipakai. Nama beken, istilahnya. Dia salah satu teman saat saya duduk di bangku pendidikan menengah atas.

Terbahak-bahak, itulah reaksi pertama saya saat mendengar kabar bahwa Ojlenk mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Bukan karena saya menyangsikan kemampuannya, lebih karena saya sangat tidak menyangka bahwa salah satu teman saya terjun ke dunia politik. Meski sempat beberapa kali berbincang melalui pesan singkat mengenai pencalonannya, saya masih tidak percaya bahwa kawan yang satu ini serius dengan pilihannya.

Saat saya pulang ke kampung halaman tiga pekan yang lalu, Ojlenk memenuhi janjinya untuk berkumpul dengan beberapa teman yang lain di sela-sela waktunya yang padat dengan berbagai kegiatan. Inilah sepenggal obrolan kami yang berlangsung singkat karena Ojlenk harus menemui orang-orang yang bakal mendukungnya (baca: sponsor).

Kamu caleg partai apa sih?
Partai Buruh. (Saya bahkan tidak tahu nomor urut Partai Buruh!)

Kok bisa? Gimana ceritanya?
Beberapa tahun lalu aku sempat terancam PHK. Kesalahan yang dilakukan rekan kerjaku ditimpakan kepadaku. Karena merasa tak bersalah, aku mencari perlindungan di serikat pekerja. Alhasil aku selamat dari PHK itu dan malah direkrut menjadi salah satu pengurus di serikat pekerja. Sejak itulah aku aktif di SPSI. Nah, beberapa waktu lalu kami mendapat tawaran mengajukan beberapa nama untuk menjadi caleg, aku salah satunya.

Dapat nomor urut berapa?
Lima.

Gak sayang tuh buang-buang duit buat kampanye? Kalau kamu gak berhasil gimana?
Sudah ada perjanjian sebelumnya, calon yang jumlah suaranya tidak memenuhi akan memberikan suaranya kepada calon dengan nomor urut di atasnya. Yang berhasil memperoleh kursi akan memberikan sebagian penghasilannya sebagai anggota dewan kepada calon-calon yang gagal. 60-40. 60 persen untuk calon yang jadi, 40 persen dibagi-bagi untuk calon yang tidak jadi. Yah, kalaupun gak jadi aku masih menerima sekitar dua juta per bulan selama lima tahun ke depan. Toh aku juga masih kerja. Gak rugi-rugi banget lah.

Heh? Jadi gitu yak?
Iya. Tapi gak semua partai menerapkan aturan main seperti ini. Tergantung kebijakan di partainya.

Hmmm, pantas saja orang berbondong-bondong mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, meski hanya di DPRD Tingkat II seperti halnya Ojlenk. Semoga Ojlenk dapat menyalurkan aspirasi para konstiuennya dan dapat menjaga amanah apabila terpilih menjadi anggota legislatif. Sayangnya, saya tidak bisa mencontreng namanya di kertas suara tanggal 9 April 2009 nanti karena Ojlenk terdaftar sebagai caleg DPRD Kabupaten Tegal sedangkan saya mungkin tercatat dalam Daftar Pemilih Tetap Kota Tegal. Padahal kalaupun kami di daerah pemilihan yang sama, belum tentu juga saya memilih Ojlenk sebagai orang yang mewakili saya di parlemen, hehehe… :D