Wednesday, October 1, 2008

Wednesday, September 24, 2008

Farewell Party

27 Agustus 2008

Kantor kami mengadakan pesta perpisahan sederhana untuk kepala kantor yang akan memasuki masa purnabakti. Begitu acara dimulai pukul 12.45 WIB, orang-orang langsung menyerbu meja prasmanan setelah dipersilakan. Sate kambing, sate ayam dan gulai kambing. Haduh, makanan berkolesterol tinggi semua nih. Tapi apa daya akhirnya ikut makan juga. Seorang biduan wanita berpakaian sopan melantunkan beberapa lagu diiringi organ tunggal. Acara berlanjut dengan beberapa sambutan gak penting, diselingi persembahan dari setiap lantai.

^^ Teman-teman dari lantai 3, nyanyi sebuah lagu yang saia lupa judulnya, ^^
dengan mengganti beberapa lirik.

^^ Yang ini para kepala seksi, nyanyi lagunya Jamrud, Pelangi di Matamu. ^^
Sebagian liriknya juga diganti.



^^ Ini persembahan dari lantai 5, puisi plus single pertamanya Sheila On 7, Kita. ^^
Saia cekikikan lihat gaya Mandes (belakang, paling kiri) di panggung!

Yang paling keren nih, dari lantai 4. Setelah latihan dua minggu tiap jam istirahat, tapi gak tiap hari, yang ngajarin saudara kita dari Mess Papua yang letaknya tidak jauh dari kantor, tujuh teman kami berkostum layaknya suku di Irian menarikan tarian dari Irian dengan diiringi lagu Yamko Rambe Yamko. Bikin semangat pokoknya!

^^ Ini dia Yamko Dancersnya! ^^

^^ Yang ini Yamko Singers (ada saia nyempil di situ, hehehe...) ^^

Sebenarnya ada juga persembahan khusus dari ibu-ibu yang nyanyi Wulan Merindu, tapi dicari photonya gak ada. Nanti kalau ketemu pasti saia posting di sini.

22 September 2008

Diterbitkan surat keputusan mutasi dan promosi. Ada orang baru yang akan mengisi tempat yang kosong ditinggalkan kepala kantor kami, yang sebelumnya dijabat sementara oleh kepala kantor sebelah yang satu gedung dengan kami.

Gak sabar pingin ketemu kepala kantor yang baru. Mudah-mudahan beliau orang yang ramah, baik hati, tidak sombong, dan suka tari-tarian daerah, hehehe... Dulu waktu saia masih bertugas di Cikarang beliau pernah nelpon, nanyain soal pekerjaan kami yang berkaitan dengan kantor beliau. Saat itu beliau masih supervisor. Kira-kira masih ingat gak yah? :D



Tuesday, September 23, 2008

The Kite Runner - Novel VS Film

The Kite Runner (terj.)
Khaled Hosseini
Penerbit Qanita (Mizan Pustaka)
Edisi Baru, Cetakan I, Februari 2008
490 hal.

”Ada jalan kembali menuju kebaikan.”

Amir kembali ke kota kelahirannya, Kabul, Afghanistan, untuk menebus kesalahannya di masa lalu. Bertahun-tahun silam dia dan Baba keluar dari Kabul menuju Peshawar, Pakistan, saat Afghanistan mulai diduduki pasukan Rusia. Mereka kemudian terbang ke Amerika Serikat dan berjuang memulai hidup baru di sana. Hingga suatu saat dia menerima kabar bahwa Rahim Kahn, sahabat Baba dan juga sahabatnya, sakit keras. Amir menemuinya di Peshawar.

Rahim Kahn menceritakan padanya bahwa dia mengetahui rahasia kecil Amir. Sebuah kejadian di masa lalu yang selama ini selalu menghantui kehidupannya. Kejadian saat mereka berusia dua belas tahun. Saat itu Amir seharusnya bisa menolong Hassan, dengan menerima segala resikonya, tetapi Amir memilih pergi. Peristiwa yang terjadi setelah layang-layang Amir berhasil menjadi layang-layang terakhir yang berada di langit dalam suatu turnamen. Saat Amir merasa bahwa dia telah berhasil membuktikan kepada Baba bahwa dia layak menjadi anak Baba dan mendapatkan kasihnya. Saat Hassan berjanji membawakan layang-layang terakhir yang jatuh kepadanya. ”Untukmu. Keseribu kalinya.” Dan dia memenuhi janjinya.
Rahim Kahn juga menceritakan suatu hal tentang Babanya. Sebuah kebenaran yang tidak pernah disampaikan Baba hingga dia meninggal.

Novel yang sempat terlupakan dan nyaris tak terselesaikan sampai kemudian saia menemukan dvd filmnya. Saia bertekad menyelesaikan membaca novel ini sebelum melihat filmnya. Akhirnya dalam dua hari saya berhasil mengeksekusinya. Novel yang bercerita banyak tentang persahabatan. Tentang penghianatan. Tentang persaudaraan. Tentang kasih sayang. Tentang kehormatan. Tentang impian. Tentang penderitaan. Dibumbui dengan konflik di Afghanistan dan kehidupan orang Afghan di Amerika, novel ini berhasil menyajikan perjuangan seorang pecundang (istilah saia untuk Amir) menjadi seorang pria terhormat.

Saat membaca bagian di mana Ali memutuskan pergi dari rumah Baba dengan membawa Hassan, dada saia terasa sesak dan kedua mata saia panas. Butiran-butiran bening itu mengalir tanpa dapat ditahan. Hal yang sama terjadi saat Farid, supir yang mengantar Amir kembali ke Kabul, mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan Hassan kepadanya. ”Untukmu. Keseribu kalinya.” Juga saat Amir bersujud, suatu hal yang selama 15 tahun terakhir tidak pernah dia lakukan, ketika Sohrab, anak laki-laki Hassan, berada dalam kondisi kritis di rumah sakit karena kehilangan banyak darah.

Karena berhasil mengaduk-aduk emosi, skor 8/10 saia berikan untuk novel ini.


The Kite Runner
Director: Marc Foster
Script Writer: David Benioff
2008

”There is a way to be good again.”
Diawali dengan adegan Amir dan Soraya kembali dari taman kota, mendapati novel terbaru Amir yang baru diterbitkan di depan apartemen mereka. Kemudian telepon berdering, ternyata Rahim Kahn yang menyuruh Amir pulang ke negerinya. Kemudian disajikan persahabatan Amir dan Hassan di usia awal belasan tahun.

Alur cerita film begitu runut mengikuti alur dalam novel, meski ada banyak hal yang dihilangkan dan beberapa hal yang ditambahkan sebagaimana film-film yang diadaptasi dari novel lainnya. Sayangnya saia tidak merasakan sesuatu yang saia dapat saat membaca novelnya. Saia tidak merasakan betapa tertekannya Amir akan hubungannya dengan Baba yang kurang hangat hingga hari turnamen layang-layang yang akhirnya menjadi hari kemenangannya. Memenangkan turnamen dan memenangkan hati Baba. Juga hari-hari setelah kejadian dia meninggalkan Hassan yang tidak berdaya.
Keputusan Amir untuk menyelamatkan Sohrab pun terkesan hanya untuk menebus dosa Baba, tidak ada hubungannya sama sekali dengan hari kelabu itu. Penderitaan dan perjuangan Amir hingga berhasil membawa Sohrab ke Amerika seharusnya lebih banyak di-expose untuk menunjukkan ”penebusan dosa”-nya di masa lalu.
Saia juga tidak menemukan kalimat “Untukmu. Keseribu kalinya.” Dalam film, kata-kata itu diterjemahkan (atau digantikan?) “Untukmu akan aku lakukan apapun.” Dan yang paling saia sesalkan, bagian yang paling saia suka, saat Ali pergi dari rumah Baba, ditampilkan dengan sangat datar!

Tapi saia suka dengan pemeran Amir kecil dan Hassan kecil, aktingnya lumayan lah.... Setting Kabul di antara pegunungan tandus juga keren meski kondisi setelah konflik tidak seseram yang saia bayangkan.

Overall, saia kasih skor 7/10. Itupun karena cerita dalam novelnya yang memang bagus.


Saturday, September 20, 2008

Wonder Women

“Gue pengin cepet-cepet kelar, Mel. Capek gue. Sabtu minggu gak bisa main ma anak-anak.”
“Loh, bukannya kuliahnya selasa ma sabtu doang?”
“Iya, tapi kalo minggu yang ada gue udah tepar. Gue jadi sering marah-marah ma Nadya. Kasihan dia, Mel.”



Sebagai prajurit di direktorat ini, kami diwajibkan bekerja dari pukul 07.30 s.d. 17.00 (kalau bulan Ramadhan sampai pukul 16.30). Sistem absensi dengan menggunakan sidik jari membuat sebagian di antara kami terpaksa berkejaran dengan waktu, terutama teman-teman yang tinggal di kota-kota penopang Jakarta. Mereka mesti pergi dari rumah saat matahari masih malu-malu memancarkan pesonanya dan baru sampai di rumah setelah matahari terbenam. Alhasil, komunikasi dengan anak sangat minim. Pergi di saat anak masih tidur dan kembali saat anak mulai beranjak ke tempat tidur. Hari Sabtu dan Minggu pun menjadi hari keluarga saat mereka bisa berkumpul dan bermain dengan anak.


Begitu juga yang dijalani Mbak Pit, lebih parah malah. Setiap pagi dia mesti berlari-lari mengejar kereta dari St. Kranji, Bekasi. Pulang pun demikian, mesti berebut ojek dengan roker (rombongan kereta - Pen.) lainnya. Ditambah lagi dia sedang melanjutkan studi S2-nya di Usakti. Setiap Selasa malam sepulang kerja dia langsung meluncur ke kampus. Hari Sabtu pun terpaksa dia relakan berpisah seharian dengan Nadya dan Ghozi. Tapi di sela-sela jam kerja dia selalu memantau kondisi mereka melalui hubungan telepon. Tugas kuliah yang tiada habisnya dia selesaikan sembari mencuri-curi waktu kerja. Kesibukannya akan bertambah saat musim ujian tiba. Padahal beban kerja kami pun tidak bisa dibilang santai. Saia salut dengan ibu satu ini. Dia bisa menyelesaikan tugas kantor tepat waktu dan tugas kuliah pun gak pernah terbengkalai. Tapi tetep keluarga jadi yang utama. Meski terkadang dia merasa berat menjalani itu semua, seperti dialog di awal tulisan ini. Bahkan beberapa kali dia jatuh sakit karena kecapekan. Beberapa kali dia juga terpaksa merelakan penghasilannya yang harus dipotong karena tidak hadir saat anaknya sakit.

Mbak Pit hanya satu dari sekian banyak ibu-ibu pekerja yang bisa menyandingkan keluarga, pekerjaan kantor dan kelangsungan pendidikannya secara proporsional. Saia menyebut mereka Wonder Women. Apakah suatu saat saia akan bisa seperti mereka? Entahlah.


Friday, September 19, 2008

a brand-new sight

Sudah hampir seminggu saia mempunyai pandangan baru. Bukan karena saia mengubah sudut pandang terhadap suatu hal. Bukan karena pengaruh orang lain. Juga bukan karena korban mode. Ini semata-mata karena tuntutan kondisi diri yang semakin uzur, hehehe...
Beberapa bulan terakhir pandangan saia mulai kabur. Tidak terlalu drastis sih, tapi sangat mengganggu. Akhirnya saia memutuskan mengunjungi sebuah optic untuk memeriksa kondisi mata saia. Hasilnya… masing-masing mata bertambah minus 0.25 jadi sekarang yang kanan -5.00 dan kiri -4.50! Terpaksa deh menguras tabungan untuk membeli kacamata yang sesuai. Ini ke-7 kalinya ganti kacamata sejak pertama kali divonis menderita rabun jauh sejak lima belas tahun yang lalu.

Tapi setelah beberapa hari dipakai, saia merasa kalau pandangan mata kanan masih agak kabur. Mungkin seharusnya ditambah -0.25 lagi!