Wednesday, July 22, 2009

Kematian Hari Ini

Death Du Jour (Terj.)
Kathy Reichs
Penerbit Serambi
Cetakan I, Desember 2007
640 halaman

Saat sedang menyelesaikan proses identifikasi tulang-belulang seorang biarawati yang akan dianugerahi gelar Santa, Temperance Brennan juga harus mengidentifikasi para korban yang ditemukan di sebuah rumah yang terbakar di tengah bekunya Quebec. Seorang wanita lanjut usia, sepasang laki-laki dan wanita dewasa dan dua orang bayi kembar yang berusia tak lebih dari 4 bulan. Bersama Detective Andrew Ryan, ahli antropologi forensik yang juga berprofesi sebagai dosen ini mencoba menguak latar belakang korban kebakaran yang disengaja tersebut.

Kematian seolah tak pernah menjauh dari wanita ini. Di saat berlibur sejenak bersama puterinya, tanpa sengaja dia menemukan dua mayat yang sudah menjadi tempat pesta belatung dan berbagai serangga. Tambahan pekerjaan ini membuat Dr. Brennan semakin sibuk. Dia masih harus menemani Det. Ryan menyelidiki sebuah tempat yang diyakini berhubungan dengan para korban kebakaran di Quebec. Di tempat ini mereka menemukan sebuah komunitas yang menjauhkan diri dari kehidupan luar.

Dr. Brennan akhirnya menyadari bahwa dua korban yang terakhir dia temukan berhubungan dengan para korban kebakaran dan seorang korban lain yang ditemukan dalam kondisi yang tak kalah mengenaskan. Di saat itu dia menyadari bahwa Harry, adik perempuannya, sudah beberapa hari menghilang tanpa kabar. Nyaris kehilangan nyawanya, Dr. Brennan berusaha meluruskan benang kusut kasus ini.

Awalnya cukup membosankan karena alur yang lambat. Tapi ketegangan makin terasa saat kasus-kasus ini mulai memiliki keterkaitan. Ngeri juga membayangkan jadi Dr. Brennan, mengorek-ngorek “catatan” dari mayat-mayat dengan kondisi mengenaskan. Hiyyyyyy...

Ternyata para serangga di jasad korban sangat berperan dalam menentukan waktu kematian. Kapan lalat datang kemudian bertelur dan menjadi larva. Kapan larva berubah menjadi lalat dan memulai kembali daur hidup tadi. Kapan kumbang daging datang. Bahkan di larva dapat ditemukan zat yang dikonsumsi korban, narkotika misalnya. Lumayan buat menambah wawasan tentang ilmu forensik.:D




Wednesday, July 8, 2009

Tak Lagi (Terpaksa) Golput

Setelah pengalaman pahit di pemilihan calon legislatif awal April lalu karena tak terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan terpaksa golput, saya tak mau hal tersebut terulang kembali. Saat kesempatan itu terbuka, saya pun meminta Bapak di Tegal untuk mendaftarkan nama saya ke KPPS tempat anggota keluarga yang lain terdaftar.

Tapi ternyata jadwal pemilihan presiden jatuh di hari Rabu, 8 Juli 2009. Meski ditetapkan sebagai hari libur nasional saya tak mungkin pulang ke Tegal “hanya” untuk menentukan pilihan. Saya pun terancam tak dapat menyalurkan aspirasi.

Sehari sebelum penutupan pendaftaran pemilih tambahan, tanpa sengaja saya bertemu dengan Ketua RT di sini. Beliau menyampaikan bahwa kami, anak-anak yang kos di rumah ini, bisa mendaftar di KPPS di wilayan ini cukup dengan menyerahkan fotokopi KTP dan sebuah surat pernyataan. Alhamdulillah.

Kemarin sore sepulang dari kantor, sebuah undangan untuk memilih di TPS 024 sudah di tangan. Ibu di Tegal juga mengabarkan bahwa saya memperoleh undangan di TPS di dekat rumah. Hahahaha... di saat banyak orang mengeluh karena namanya tak terdaftar di DPT, nama saya justru terdaftar di dua DPT di wilayah yang berbeda. Apakah ini sebuah pelanggaran pemilu? Entahlah. Toh saya hanya memilih di satu tempat. Yang jelas saya senang karena bisa ikut meramaikan pesta demokrasi kali ini.

Sekitar pukul 10.20 WIB saya melangkahkan kaki ke TPS 024 yang hanya berjarak sekitar 300 meter dari kos. Tanpa antrian, tak lebih dari 5 menit saya berada di TPS, mulai dari pendaftaran, pengambilan surat suara, pencontrengan, hingga pencelupan jari ke tinta sebagai tanda telah memilih.


Siapa pun yang terpilih nantinya, semoga dia adalah yang terbaik yang bisa membawa bangsa ini ke kondisi yang lebih baik. Semoga.


Monday, July 6, 2009

Kios Jujur

SEBERAPA JUJURKAH ANDA...???
SILAHKAN BELANJA DI KIOS JUJUR
KPP MADYA JAKARTA TIMUR

Kios Jujur KPP Madya Jakarta Timur adalah kios tanpa penjaga.. Silahkan ambil barang yang anda kehendaki. Letakkan uang di kotak yang telah disediakan, ambil sendiri uang kembalian anda jika ada...

Jujur itu mudah, tapi menjadi begitu sulit ketika ada unsur uang dan kesempatan di dalamnya...

Orang lain mungkin tidak melihat perbuatan kita... Tapi... Yakinlah Tuhan selalu mengawasi setiap hembusan nafas kita...

Sekali lagi, menjadi jujur itu mudah!!!
Mulailah dari hal yang kecil...
Mulailah dari diri kita...
Dan... mulailah saat ini juga...!!!

Itulah tulisan yang terdapat dalam standing banner di salah satu sudut kantor ini. Banner ini melengkapi sebuah rak pendingin yang diisi berbagai macam minuman serta sebuah rak kaca tempat makanan ringan. Ditambah sebuah meja bundar dengan sebuah toples kaca serta tulisan “Taruh Uang Anda dan Ambil Uang Kembalian Anda Sendiri Di Sini.


Memang tak selengkap minimarket, tapi setidaknya kios ini menyediakan beberapa minuman dan makanan ringan sebagai pelepas dahaga dan pengganjal perut bagi para Wajib Pajak yang berkunjung. Tak sedikit pula pegawai yang juga menjadi pembeli di kios ini. Meski tak ada penjaga yang mengawasi pergerakan uang dan barang, kios ini tak pernah tekor. Bahkan menurut kabar yang beredar, hanya dalam waktu tak lebih dari dua pekan kios ini sudah mencapai break event point! Ternyata masih banyak orang jujur di negeri ini. :D

Thursday, July 2, 2009

Saat Jason Mraz Bertemu Kla Project

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again


Alunan suara Jason Mraz yang berduet dengan Colbie Caillat masih betah menemani hari-hari saya belakangan ini. Sudah beberapa bulan terakhir lagu ini berulang kali saya dengar bersama sederet lagu lainnya dari album We Sing, We Dance, We Steal Things. Entah kenapa tiba-tiba lagu ini seolah meloncat begitu saja dari 12 lagu di album itu dan membuat saya tertegun sejenak.

Tiba-tiba saya merasa de javu. Bukan dengan lagu ini tentu saja. Tapi lagu ini membangkitkan ingatan saya ke sebuah tembang manis dari grup yang pernah menjajah dunia musik tanah air, Kla Project. Sebuah Rahasia. Satu-satunya lagu baru dari album The Best of Kla yang dirilis tahun 2001 ini tak banyak diketahui khalayak. Bahkan seorang teman yang menyatakan dirinya sebagai Klanist (penggemar Kla Project) mengaku tidak mengetahui lagu ini! T e r l a l u ... –Rhoma Irama Mode: On–

Saat pertama kali mendengar lagu ini dari sebuah stasiun radio, saya langsung tertawa ngakak karena lagunya pas banget dengan yang terjadi saat itu. Coba perhatikan beberapa baris liriknya.

Niscaya hatimu 'kan terkesima sebuah rahasia
Diriku yang seolah sekedar sahabatmu
tempat curahan kesah tangismu di bahu
sesungguhnya inginkan mu


Yup, inti dari lagu ini tentang seseorang yang jatuh cinta kepada sahabatnya. Tak jauh berbeda dengan Lucky-nya Jason Mraz. Pernah mengalami yang seperti ini? Saya pernah. Hihihihi... jadi nostalgia deh, ingat jaman muda dulu. :D



Tuesday, June 30, 2009

Diselamatkan Kartu KORPRI

Di awal bulan ini saya merencanakan pulang ke kampung halaman sebelum bulan berganti. Tiket pergi-pulang Jakarta Tegal untuk tanggal 26 dan 28 Juni 2009 sudah di tangan. Tiket KA Gumarang dan Argo Muria ini dibeli dengan memanfaatkan potongan harga yang ditawarkan bagi pemilik Kartu KORPRI. Lumayan lah bisa menghemat 10% dari harga normal. Selain potongan harga 10% untuk pembelian tiket PT. KAI, pemegang Kartu KORPRI juga dapat memperoleh keuntungan lain seperti potongan harga untuk pembelian tiket PT. PELNI, Damri, serta pembelian obat dari PT. Kimia Farma.

Beberapa hari menjelang keberangkatan, saat pikiran sudah mulai melayang ke tempat saya dilahirkan dan dibesarkan, seorang sahabat melayangkan kabar yang membuat saya kesal, sedikit marah, sedih, tapi juga bahagia. Selasa, 23 Juni 2009, sekitar pukul 18.30 WIB. Ana memberitahukan bahwa dia akan melangsungkan pernikahan tanggal 28 Juni 2009 di Klaten. Damn! Saya panik. Saya langsung memutar otak untuk mencari cara bagaimana agar bisa menghadiri pernikahan kawan karib ini meski harus mengorbankan sedikit waktu untuk orang-orang di rumah.

Tiket KA dari Yogyakarta maupun Solo untuk keberangkatan tanggal 28 Juni 2009 malam telah ludes. Rupanya moda transportasi ini masih menjadi favorit terutama di musim liburan sekolah. Mencoba mengintip harga tiket penerbangan dari beberapa maskapai. Oh God... mahal banget! Rata-rata berada di kisaran Rp.560.000 untuk sekali jalan.

Jadwal keberangkatan KA Argo Muria dari Sta. Tegal pukul 18.13 WIB. Tidak mungkin terkejar kalau saya berangkat dari Klaten setelah acara Akad Nikah yang baru dimulai pukul 09.00 WIB. Sebuah rencana nekat terlintas di kepala. Saya akan naik kereta ini dari Sta. Tawang Semarang, tempat kereta diberangkatkan pada pukul 16.00 WIB. Saya berpikiran bahwa yang saya akan lakukan tidak melanggar karena harga tiket Tegal-Jakarta dengan Semarang-Jakarta tak ada bedanya. Saya pun langsung menyusun rencana perjalanan dengan Andri dan Lita.

26 Juni 2009 saya memulai perjalanan dari Sta. Gambir. KA Gumarang diberangkatkan 15 lebih lambat dari jadwal seharusnya. Tiba di Sta. Tegal sekitar pukul 23.00 WIB. Tak banyak yang saya lakukan di kota yang telah menempa hampir dua pertiga hidup saya. Bahkan rencana untuk mencoba memperbaiki komputer di rumah pun tak berhasil dijalankan karena sempitnya waktu.

27 Juni 2009 pukul 21.30 WIB sebuah mobil L300 berwarna merah menyala hadir di depan rumah. Mobil inilah yang mengantar kami – saya dan Andri – menuju Magelang. 28 Juni 2009 pukul 02.30 WIB, sejuknya udara Magelang menyambut kami menapakkan kaki di kota itu, untuk merepotkan (lagi) Lita dan Mas Yoga, sebelum kami sampai ke tujuan utama, Klaten.

Pukul 07.00 WIB kami berempat sudah meluncur membelah jalanan Magelang. Mas Yoga melajukan mobil lebih cepat karena kami tak mau tertinggal acara akad nikah yang rencananya digelar pukul 09.00 WIB. Melintas di Ring-Road Utara di pinggiran DIY, kami masuk ke Jalan Raya Solo menuju Klaten. Berbekal peta yang diberikan Ana kami pun tiba di lokasi tepat saat acara baru saja dimulai. Alhamdulillah.

Sudah 45 menit berlalu dari pukul 10.00 WIB, tetapi rangkaian acara yang mengikuti akad nikah belum juga berakhir. Resah. Saya tak lagi bisa berkonsentrasi mengikuti jalannya acara. Akhirnya kami memutuskan berpamitan karena saya harus mengejar kereta ke Semarang. Mas Yoga kembali memacu mobilnya menuju Terminal Jombor, Sleman. Andri memilih PO. Nusantara sebagai armada yang akan mengantar kami ke Semarang.

Pukul 12.15 WIB bus yang kami naiki mulai melaju perlahan. Sampai Magelang bus ini hanya melaju dengan rata-rata 40km/jam! Saya makin resah karena takut tidak bisa mengejar KA Argo Muria. Kami berdua geregetan. Selidik punya selidik ternyata sang sopir dalam kondisi mengantuk berat sehingga dia tidak berani tancap gas. Kami pun sempat mengabadikan adegan dia sedang mengantuk saat mengendara.

Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Semarang sekitar pukul 15.15 WIB. Mas Wawan, teman kantor Andri, telah menunggu kami di daerah Banyumanik. Mereka berdua mengantar saya ke Sta. Tawang. Saya meminta supir taksi yang kami naiki untuk memacu kendaraannya. Alhamdulillah KA Argo Muria masih nongkrong di situ. “Tinggal satu halangan lagi,” kata saya kepada Andri sebelum bergegas memasuki peron dan berpisah dengan mereka.

Setelah menunggu penumpang lain naik, saya masuk ke gerbong 3 sesuai yang tertera di tiket. Ternyata kursi 7D tidak ada yang menempati. Saya pun langsung duduk di sebelah lelaki seumuran Bapak saya yang terlihat ramah. Tak lama kemudian dari arah belakang tiga orang petugas PT. KAI memeriksa tiket kami dan terjadi dialog yang kurang lebih seperti ini:

Saya: “Pak, tiket saya dari Tegal. Boleh kan naik dari sini?” (sembari menyerahkan tiket kepada salah satu petugas)
Petugas I: “Kenapa naik dari sini?
Saya: “Tadinya saya mau berangkat dari Tegal tapi ada acara mendadak di sini. Gak terkejar kalau balik ke Tegal dulu.” (memberi alasan)
Petugas I: “KORPRI ya?” (sambil memeriksa tiket saya)
Saya: “Iya, Pak.
Petugas I: “Wah, seharusnya ini gak bisa. Nih, coba tanya KS. Gimana Pak?” (berpaling ke petugas lainnya)
Petugas III: (memeriksa daftar di tangannya) “7D kosong.
Saya: “Tapi kan harganya sama, Pak.” (mencoba memberi argumen)
Petugas II (KS): (memeriksa tiket saya) “Ada Kartu KORPRI-nya?
Saya: “Ada, Pak.” (mencari kartu yang dimaksud dan menyerahkan kepada beliau)
Saya: “Boleh ya, Pak?” (pinta saya sedikit memelas)
Petugas II (KS): “Kalau mau aman sebaiknya Mbak beli tiket untuk jurusan terjauh. Takutnya tiket Semarang-Tegal sudah kami jual.
Saya: “Baik, Pak. Tapi sekarang boleh kan?
Petugas II (KS): “Boleh. Untung kursinya belum dijual.” (mengembalikan tiket dan Kartu KORPRI)
Saya: “Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Pak.
(Petugas II berlalu dari hadapan saya menyusul rekan-rekannya)

Meski sudah memperoleh persetujuan KS (Kepala Stasiun – penulis) saya belum bisa tenang menikmati perjalanan menuju Jakarta. Saat kondektur memeriksa tiket, beliau tidak memperhatikan bahwa tiket saya bukan dari Semarang. Perasaan was-was kembali hadir saat kereta berhenti di Sta. Pekalongan untuk menaikkan penumpang. Takut ada yang menuntut kursi ini. Alhamdulillah tidak ada. Tapi saya tetap was-was saat kondektur kembali berkeliling.

Saya baru bisa tenang setelah kereta melewati Sta. Tegal. Fyuh... berasa seperti maling yang takut tertangkap basah!

Entah karena Kartu KORPRI atau sebab lain, saya benar-benar merasa terselamatkan karena memiliki kartu ini.


Terima kasih ya Allah, Engkau telah mempermudah perjalanan ini.


Sepertinya judulnya kurang sesuai dengan isinya, bodo amat... :D