Friday, July 9, 2010

Catatan Perjalanan "Lombok Vacation" (Bagian II)

Rabu, 30 Juni 2010, kami harus sudah siap pukul 08.00 WITA. Setelah sarapan kami langsung bergegas. Pak Agus tak nampak pagi ini, digantikan oleh guide lain, Mas Yudi (the third Yudi in this trip). Sayangnya, Mas Yudi ini gak seasyik Pak Agus saat memandu. Gilang, jangan pake dia lagi yak... ;p

You can see Bali in Lombok, but you can’t see Lombok in Bali. Tiga puluh persen penduduk Mataram adalah penganut Hindu. Banyak pura di sepanjang jalan utama, juga tempat peribadatan di depan rumah. Angkutan tradisional yang berlalu-lalang adalah cidomo (gabungan dari cikar, dokar, roda mobil). Tak banyak angkutan umum, bahkan tak nampak bus kota atau antar kota.


Setelah city tour keliling Mataram, kami menuju ke Senaru di kaki Gunung Rinjani, Lombok Utara. Mencicipi segarnya Tuak Manis yang baru saja diambil dari pohonnya. Cukup dengan Rp.5.000 untuk sebotol air mineral ukuran 1500ml. Katanya sih halal karena belum melewati proses fermentasi dan sama sekali tidak memabukkan. Melewati Pusuk Pass di mana kita bisa bercengkrama dengan monyet-monyet liar yang bersahabat. Siapkan saja segenggam kacang, mereka akan mengambilnya dengan sopan tanpa berebutan. Ada juga sih yang nakal, merebut sekantung besar kacang yang masih setengah isi!

Perjalanan ke Senaru cukup memakan waktu. Baru sekitar pukul 13.00 WITA kami tiba di parkiran Air Terjun Sendang Gila. Setelah makan siang nasi kotak dengan menu yang lagi-lagi mirip dengan hari sebelumnya, kami langsung menuruni ratusan anak tangga ke lokasi air terjun. Lumayan bikin ngos-ngosan. Cukup ramai orang di sini, beberapa mandi di bawah guyuran air yang deras, termasuk dua orang turis mancanegara. Air terjunnya tak terlalu tinggi dan ada dua tingkat.

Lima belas menit kemudian Gilang mengajak kami ke air terjun berikutnya, Tiu Kelep, yang tak jauh dari Sendang Gila. Jalurnya lebih menantang dibandingkan jalur ke Sendang Gila yang sudah berupa undakan tangga. Menuju Tiu Kelep harus menyusuri jalan setapak tanah, tangga yang terjal, jembatan bolong-bolong yang lumayan serem untuk penderita acrophobia karena di bawah jembatan adalah jurang menganga, serta melintasi sungai berbatu. Medannya lebih mudah dibandingkan saat berpetualang ke Curug Cijalu Subang tempo hari. Tapi reward-nya lebih bagus. Tiu Kelep keren pisan! Ditambah penampakan pelangi di atas permukaan air. It’s so amazing! Hilang semua letih yang kami rasa terbayar oleh kemagisan Tiu Kelep. Semua orang langsung nyemplung tanpa mempedulikan dinginnya air.



Makin lama angin yang berhembus dari air terjun semakin kencang. Dengan pakaian yang masih kuyup kami kembali menyusuri sungai dan setapak serta menaiki anak tangga. Kami harus bergegas untuk mengejar panorama matahari terbenam dari Bukit Malimbu. Megahnya Gunung Rinjani mengantar kami hingga pesisir Lombok Utara. Sayangnya, kami sudah sangat terlambat untuk mengejar matahari terbenam di Bukit Malimbu. Tapi kami masih bisa mengagumi lembayung senja di sepanjang jalan menuju Senggigi. Nampak di cakrawala adalah Gunung Agung di Pulau Dewata.

Menyusuri pesisir barat Pulau Lombok di petang hingga malam hari memberikan sensasi sendiri. Jalanan yang berkelok dan naik turun membuat bus melaju dalam kecepatan tak sampai 20 km/jam. Sisi kiri adalah tanah perbukitan sementara di sisi kanan tebing yang langsung berbatasan dengan laut. Fyuh… saya sering menahan nafas sepanjang perjalanan. Tak ada penerangan lain selain lampu kendaraan. Tak ada kendaraan lain selain bus kami. Apalagi di beberapa bagian sedang dilakukan perbaikan jalan hingga menyerupai jalan buntu.

Sampailah kami di daerah Senggigi yang saat ini menjadi pusat pariwisata Lombok. Banyak hotel berbintang dan kelab hiburan malam. Kalau di Bali ada Kuta, di Lombok ada Senggigi. Kami yang sudah sangat kelaparan langsung berhamburan saat bus diparkir di depan Café Montong. Sajian modern sudah tersedia. Rasanya sih biasa saja, tapi berhubung dalam kondisi sangat lapar kami pun dengan lahap menyantap semuanya dengan lahap. Pak Agus telah kembali bergabung dengan kami, horeeeeee...!

Kantuk mulai menyerang saat bus kembali melaju menuju kota Mataram. Hari kedua di Lombok pun berlalu dengan indah. ;-)



Catatan Perjalanan "Lombok Vacation" (Bagian I)

Rupanya, sebagian besar peserta adalah mahasiswa beberapa perguruan tinggi di Bandung. Gilang dan Yudhi adalah putra daerah Lombok yang sedang menuntut ilmu di kota kembang. Total peserta 25 orang. Enam orang (termasuk saya) dengan latar belakang sebagai abdi negara di institusi yang sedang banyak disorot karena kasus mafia pajak. Satu orang dokter. Satu orang pendidik. Satu orang penyiar radio. Sejoli yang baru saja menikah tanggal 20 Juni 2010. Sisanya adalah mahasiswa. Teman seperjalanan di sebelah saya, Janice, mahasiswi psikologi Univ. Maranatha.Berasa muda kembali berada di antara peserta lain yang masih kinyis-kinyis. :D

Senin pagi, 28 Juli 2010, kami berhenti di Pasuruan untuk sarapan. Perjalanan ke Banyuwangi masih cukup jauh. Di Situbondo mata kami disegarkan oleh pemandangan birunya laut. Semua peserta terpaksa menahan lapar karena kami harus mengejar ferry agar segera sampai di Bali. Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, tak seramai yang saya bayangkan di musim liburan ini. Tanpa menunggu lama bus kami sudah berada di lambung ferry dan semua penumpang naik ke dak. Dan layaknya pelancong, semuanya sibuk bergaya di depan kamera. :P
Di bawah sana nampak para pengumpul koin yang dilemparkan para penumpang ke air.



Tak sampai satu jam perjalanan dengan ferry. Di Pelabuhan Gilimanuk ada pemeriksaan KTP bagi semua orang yang masuk (masih seperti 5 tahun lalu saat saya berkunjung ke sini). Tapi kok kesannya pemeriksaannya setengah hati yak? Gak dilihat gitu KTP-nya. :P

Bus kembali meluncur di jalan menuju Kuta. Menjelang matahari kembali ke peraduannya, kami mampir sebentar di RM Madina karena semua sudah berteriak kelaparan. Sebagian malah menyempatkan mandi karena sudah dua hari tidak mandi. Perjalanan ke Kuta rupanya cukup memakan waktu. Pukul 22.00 WITA kami baru tiba di Denpasar. Akhirnya diputuskan untuk menunda kunjungan ke Kuta hingga kepulangan kami dari Lombok. Bus langsung pindah haluan kea rah Pelabuhan Padang Bai. Sudah tengah malam saat kami tiba di pelabuhan. Begitu naik ke dak kami langsung ditawari sewa kasur Rp.15.000/kasur. Mumpung penumpang sepi, saya memilih tidur di bangku-bangku yang sudah disediakan. Sedikit tidak nyaman memang, tapi tetap bisa membuat saya terlelap meski di depan sana orang ramai menyaksikan pertandingan sepak bola antara Brazil dengan Chile (eh, bener gak ya?).

Selasa pagi, 29 Juni 2010, terjaga dengan sedikit linglung karena kaget dibangunkan. Sambil menunggu ferry bersandar di Pelabuhan Lembar, Lombok, kami menikmati fajar yang mulai merekah. Perjalanan menuju hotel di kota Mataram membutuhkan waktu sekitar satu jam. Setelah pembagian kamar yang diwarnai keribetan tak perlu, akhirnya saya bisa meluruskan badan setelah sekitar 36 jam perjalanan.

Kami berkumpul lagi pukul 11.00 WITA untuk memulai petualangan di Lombok. Gilang memperkenalkan Pak Agus, guide professional yang akan memandu kami selama berada di Lombok. Orangnya asyik, cara menyampaikan narasi pun enak jadi mudah nyantel di memori. ;-)

Tujuan pertama kami adalah Desa Sade Rembitan di Lombok Tengah. Menuju desa tersebut kami melalui daerah dengan kondisi geografis yang kering, yang membuat karakter penduduknya sedikit lebih agresif hingga sering terjadi perkelahian antarkampung. Nampak di kejauhan Bandara Internasional Lombok (BIL) yang sedang dalam proses penyelesaian akhir. Rencananya bandara ini akan mulai beroperasi akhir tahun 2010. Setelah sekitar satu jam perjalanan dari Mataram, sampailah kami di Desa Sade Rembitan. Di desa ini tinggal Suku Sasak, penduduk asli Pulau Lombok, yang masih memegang teguh adat-istiadat mereka. Ada beberapa hal unik dari kehidupan Suku Sasak. Rumah mereka didirikan di atas pondasi yang terbuat dari campuran tanah liat dan kotoran kerbau. Ajaibnya, pondasi yang juga merupakan lantai tersebut sangat kuat dan tidak menguarkan aroma tak sedap. Yang paling unik adalah adat pernikahannya. Seorang laki-laki yang akan menikahi seorang gadis harus menculik gadis tersebut dari rumahnya tanpa sepengetahuan orang tua si gadis. Jangan menganggap ini terlalu mudah karena rumah Suku Sasak didisain dalam dua tingkat dengan satu pintu dan tanpa jendela. Sang gadis akan tidur di undakan atas sementara orang tuanya tidur di undakan bawah di dekat pintu. Tapi saat ini sudah banyak lebih modern. “Penculikan” tetap dilakukan hanya untuk mengikuti adat.

Sebelum tiba di Desa Sade, kami diinformasikan bahwa jangan pernah member uang kepada anak-anak di desa. Akan lebih baik jika membeli apa yang mereka tawarkan seperti gelang, kodok dari kayu, selendang/ kain tenun, dan sejenisnya. Atau bisa juga memberikan donasi di kotak yang telah disediakan untuk membantu pengembangan desa ini.

Setelah makan siang di bruga (sejenis saung) dengan nasi kotak yang menunya nyaris sama dengan sarapan tadi pagi, kami diajak berkeliling desa oleh pemandu setempat. Menyusuri rumah-rumah yang sebagian masih mengikuti pakem, melihat para wanita menenun adan para lelaki yang menunggu lumbung, melewati kandang-kandang ayam, serta menunaikan shalat di masjid yang lantainya tidak terbuat dari kotoran kerbau. :D

Pukul 14.30 WITA kami menuju destinasi selanjutnya, pantai-pantai di Lombok bagian Selatan. Melalui jalan berkelok serta terjal selama sekitar satu jam. Dari kejauhan telah nampak birunya Samudera Hindia di antara perbukitan hijau. Subhanallah…elok benar! Pantas saja kalau kawasan ini akan dijadikan pusat resort kelas atas layaknya Nusa Dua, Bali. Seluruhnya telah dimiliki oleh investor yang sebagian adalah orang asing. ;-)

Tibalah kami di Pantai Mawun. Pantai ini dikenal memiliki ombak besar yang membuat banyak turis mancanegara menyukainya untuk berselancar. Pantainya masih sepi, masih alami, dan bersih. Hanya ada dua-tiga pengunjung selain kami yang ada di situ. Kami hanya diberi waktu 20 menit di sini. Tidaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkk…. Tak cukup waktu sesempit itu menikmati keeksotisan Pantai Mawun. We want more!!! Gilang, teganya dirimu, teganya, teganya, teganyaaaaaa….

Tapi kami tak bisa berlama-lama kecewa karena berikutnya kami dimanjakan oleh pemandangan Pantai Kuta Lombok dari kejauhan. Konon kawasan ini akan dikembangkan oleh investor dari Dubai. Di Pantai Seger yang merupakan bagian dari Pantai Kuta Lombok, setiap tahun dilakukan tradisi Bau Nyale, mengumpulkan cacing-cacing yang berwarna-warni, yang muncul sebagai jelmaan Putri Mandalika setiap tanggal 19 bulan 10 kalender Sasak (biasanya terjadi di akhir Februari sampai awal Maret saat bulan penuh). Legenda Putri Mandalika merupakan cerita rakyat turun-temurun di mana sang putri memilih untuk menceburkan diri ke laut agar tidak terjadi perang karena beberapa pangeran yang memperebutkan dirinya. Saat rakyatnya akan menolong sang putri, dari pasir pantai justru muncul cacing beraneka warna. Mereka pun menganggap itu sebagai jelmaan Putri Mandalika yang akan memberikan kesejahteraan. Mereka mengumpulkan cacing-cacing tersebut, menaburkannya di sawah/ ladang, bahkan menyantapnya sebagai obat ataupun karena kepercayaan akan membuat penyantapnya awet muda (yaiks...). :D

Sampailah kami di Pantai Tanjung Aan yang sedikit lebih banyak pengunjung dibandingkan Pantai Mawun. Pantai ini berbentuk huruf W dimana di bagian kiri terhampar pasir putih yang menyerupai merica sementara di bagian kanan, berupa pasir putih laksana tepung yang sangat halus. So weird, eh?

Kami diberi waktu cukup lama di sini, sekitar dua jam, sehingga semua bisa puas menikmati keindahannya. Berenang, berendam, tiduran di pasir, naik ke tebing pemisah untuk menikmati pantai dari atas, jalan-jalan menyusuri pantai, atau sekedar duduk-duduk menatap birunya air yang menyatu dengan langit di cakrawala.

Rupanya angin yang cukup kencang dari samudera berhasil membuat saya tumbang. Sedikit demi sedikit kepala mulai berat. Akhirnya saya menyerah. I need an aspirin. I need some caffeine. Saya pun menyingkir dari bibir pantai, bersama Andri yang juga mulai drop, dan memesan segelas kopi panas di salah satu warung. Masih lebih dari setengah jam lagi menyudahi kunjungan di Pantai Tanjung Aan. Saya dan Andri memutuskan untuk kembali ke bus karena kondisi badan makin menurun.

Menjelang senja kami pun kembali ke Mataram setelah sebelumnya mampir ke Desa Puyung untuk mencicipi dahsyatnya Nasi Balap atau lebih terkenal dengan nama Nasi Puyung. Warungnya terletak di sebuah gang dan harus berjalan sekitar 200 meter dari jalan raya. Baru sekitar 50 meter berjalan kaki ketika Andri bilang, “Mbak, aku drop nih. Keknya tekanan darahku turun,” kemudian langsung ambruk. Untunglah saya sempat menahan badannya dan berteriak minta tolong. Akhirnya Andri kami bawa ke sebuah saung di warung pinggir jalan. Sepertinya dia tidak kuat dengan kafein yang tadi dikonsumsinya bersama saya di Pantai Tanjung Aan. Sementara teman-teman yang lain menyantap Nasi Puyung, saya dan Nita menemani Andri di warung pinggir jalan dan berbincang dengan ibu pemilik warung yang memberikan tempat bagi kami tanpa pamrih. Huhuhuhuuuuu... jadi terharu.

Untunglah Gilang memesan Nasi Puyung untuk kami makan di hotel. Penasaran kami pun terlunasi. Dinamakan Nasi Balap dikarenakan semula makanan ini dijual di terminal/ pelabuhan untuk orang-orang yang akan melakukan perjalanan. Karena makannya harus cepat agar tidak ketinggalan bis atau kapal, jadilah disebut Nasi Balap. Puyung merupakan desa asal makanan ini. Terdiri dari nasi dengan taburan ayam goreng suwir dan kacang kedelei goreng ditambah sambal goreng ayam yang benar-benar pedas. Pecinta makanan pedas harus mencicipi ini. Rasanya nendang abis!

Perjalanan kami hari pertama di Lombok usai sudah. Melelahkan, tapi sangat menyenangkan. Saatnya istirahat untuk petualangan berikutnya yang lebih berat.


Catatan Perjalanan "Lombok Vacation" (Prolog)

Jumat petang, 25 Juni 2010, kereta api Senja Utama dengan tujuan akhir St. Tugu Yogyakarta melaju perlahan dari St. Senen Jakarta. Ditemani rombongan Laskar Senja yang setiap Jumat mengukur panjang rel Jakarta-Jogja untuk bertemu dengan keluarga tercinta di kampong halaman. Dalam kondisi stamina yang tidak 100% masih harus menerima tamparan angin yang menerobos masuk melalui jendela yang terbuka.

Sabtu pagi, 26 Juni 2010, rangkaian KA Senja Utama memasuki St. Tugu Yogyakarta. Terlambat sekitar dua jam dari jadwal seharusnya. Kami langsung meluncur ke arah selatan ke daerah Bantul. Saya turun di depan SPBU Singosaren tak jauh dari Terminal Giwangan. Rumah Singosaren. Rumah Pak Har dan Bu Har. Rumah Ketty dan Windi. It’s like my second home, di mana saya bisa menganggap rumah ini sebagai rumah sendiri, meski saya gak bisa mengagunkan sertifikatnya sebagai jaminan hutang. :D.

Ini salah satu alasan saya lebih memilih Jogja daripada Bandung sebagai titik awal perjalanan berikutnya ke salah satu surga dunia, Pulau Lombok. Lombok Vacation (LV), paket jalan-jalan ala backpacker berangkat dari Bandung Minggu pagi, 27 Juni 2010. Rombongan akan singgah di Jogja pada Minggu malam. Nah, biar lebih puas jalan-jalan di Jogja saya pun memilih untuk bergabung dengan rombongan LV di Kota Pelajar itu.

Tapi ternyata kondisi badan tidak memungkinkan untuk menjelajah Jogja. Sepanjang pagi hingga sore saya malah tidur-tiduran “nge-charge” baterai tubuh biar besok lebih fit. Selepas maghrib barulah keluar kandang dikawal Windi, Ai dan Lia. Tujuan utama: Festival Kesenian Yogya (FKY) di kompleks Benteng Vredeburg. Sayang kami kurang beruntung. Setelah melewati jalanan yang super padat menuju Malioboro, kami harus menelan kekecewaan. FKY ditutup lebih awal karena terjadi pemadaman listrik sebagai imbas dari musibah kebakaran di Jl. Katamso (mencuri dengar dari seorang bapak bergaya veteran di depan Museum Serangan Umum 11 Maret).

Daripada berlama-lama kecewa akhirnya kami meluncur ke sebuah warung remang-remang di belakang St. Tugu. Jangan berpikiran kotor dulu! Saya sebut warung remang-remang karena di sini memang irit cahaya. Sajian andalannya: Kopi Joss. Kopi tubruk yang dicelup arang yang masih membara hingga menimbulkan bunyi “jossss”. Rasanya: mantap! Pecinta kopi harus mencicipi kopi joss ini. (Maaf, ini bukan promo karena saya gak dibayar sepeser pun oleh yang punya warung).

Kembali ke Rumah Singosaren, kembali terkapar tak berdaya. Tubuh makin drop. Batuk makin menjadi. Pake acara mimisan segala! Hehe… gak ding, cuma pileknya makin parah sampai bercampur warna merah (darah kali yak). Dalam seminggu ini sudah mengkonsumsi sebotol obat batuk, beberapa butir obat flu dan multivitamin, ditambah enam butir jeruk nipis! Tapi ternyata tak membuat perubahan apapun. Saya pun berpikir untuk membatalkan perjalanan ke Lombok jika kondisinya masih seperti ini.

Alhamdulillah, Minggu pagi, 27 Juni 2010, saya terbangun dalam kondisi yang cukup prima. Berdua dengan Windi, kami ke sentra kerajinan kulit di Desa Manding, Bantul. Hmmm… agak mirip Tajurnya Bogor. Setelah keluar masuk toko, akhirnya cuma membeli sebuah gantungan kunci mungil berbentuk sepatu boot dari kulit. Dari situ kami ke Malioboro setelah singgah makan siang di Baceman, Jl. Taman Siswa. Mampir ke Mirota Batik, ngubek-ubek baju dan kain batik. Dari Mirota Batik dilanjutkan ke FKY. Wih… banyak barang yang lucu-lucu di sini. Musti tutup mata biar kantong gak bolong. Dan… ada penampilan band anak muda di panggung utama dengan musik jedar-jeder gak jelas yang sangat tidak bersahabat dengan kuping.

Sudah menjelang sore ketika kami kembali ke Rumah Singosaren. Saya musti bersiap untuk perjalanan yang lebih panjang. Ketemu Andri dan kenalan dengan Nita di Hotel Wisma Ary’s di Jl. Suryodiningratan. Makan malam super murah di warung pecel ayam Pak Sabar di dekat hotel. Bertiga buma dua puluh tiga ribu perak. Kami bertiga meluncur ke Central Parking Malioboro, meeting point dengan rombongan LV. Kenalan dengan sang penyelenggara, Gilang dan Yudhi, serta peserta lain. Sekitar pukul 22.00 WIB bus Puja Wisata dengan kapasitas 31 tempat duduk pun meluncur membelah Jogja. Lombok, I’m coming…!


Wednesday, May 19, 2010

Kesah

Sudah hari ketiga, aura gelap masih bergelayut di atmosfer ruangan ini. Entah sampai kapan suasana tak nyaman ini akan berlangsung. Ah, jadi gak betah di ruangan nih. Gimana mau kerja kalau suasana tak nyaman seperti ini? "Hanya" karena sebuah keputusan yang dirasa tak adil bagi kami.

Tak hanya itu, kami seolah tak berhak mengetahui bagaimana proses pengambilan keputusan. Yah, namanya prajurit... musti mengikuti apa yang diperintahkan komandan. Kami pun tak punya kuasa untuk mengubah keputusan itu. Kami merasa di-dholimi.

Pada awalnya semua sepakat untuk menuntut penjelasan secara transparan atas keputusan yang diambil tersebut kepada top manager. Tapi kemudian, hanya kami bertiga (di luar korban utama) yang tetep keukeuh menuntut klarifikasi. Yang lain seolah tak lagi peduli. Entahlah... mungkin mereka sudah bisa berkompromi dengan keputusan itu.

Kami yang bertahan merasa bahwa penjelasan dianggap perlu untuk mengurangi demotivasi yang terjadi setelah dikeluarkannya keputusan itu. Kami butuh kejelasan. Kami butuh keadilan. Kami butuh menyuarakan keluh kami.

Semoga tuntutan kami segera terpenuhi karena kalau tak ada lagi kenyamanan di ruangan ini, apa lagi yang bisa membuat kami bertahan selain alasan ekonomi?



Di saat kita bersama
Di waktu kita tertawa
Menangis merenung
Oleh cinta...

(Kita-So7)



Monday, May 3, 2010

Petualangan Seru ke Curug Cijalu

Kali ini starting point-nya bukan dari Jakarta, tapi dari Sadang, Kab. Purwakarta. Curug Cijalu terletak di Desa Cipancar, Kab. Subang tetapi lebih mudah dijangkau dari Purwakarta yaitu melalui Wanayasa. Jaraknya sekitar 25 km dari pusat kota Purwakarta. Saya dan Adi naik angkot 01 jurusan Pasar Rebo. Dari Pasar Rebo disambung dengan elf jurusan Wanayasa. Sebenarnya bisa saja langsung naik elf dari Sadang, tapi resikonya kita harus bersabar karena elf ini bakal ngetem lumayan lama di Pasar Rebo. Dari Pasar Rebo juga ada angkot kuning yang ke Wanayasa. Tapi tidak disarankan karena kabarnya di tengah perjalanan penumpang sering dipindahkan ke angkot lain.

Perjalanan ke Wanayasa memakan waktu sekitar setengah jam. Cuaca cukup bersahabat, cerah tetapi sedikit teduh. Dari Pasar Wanayasa kami langsung naik ojek ke lokasi curug, ongkosnya Rp.20.000/orang. Mahal ya??? Hmmm... tidak juga kok. Karena dari pasar ke curug masih sekitar 10 km dengan kondisi jalan yang naik-turun dan berkelok-kelok. Tak lama melaju di Jalan Cagak (yang menghubungkan Wanayasa dengan Subang) yang mulus, kami berbelok di pangkalan ojek Legok Barong ke sebuah jalan yang lebih kecil. Kondisi jalan cukup bagus, sudah diaspal meski di beberapa bagian sudah mulai terkelupas. Tak ada angkutan umum yang masuk ke jalan ini. Kalau tidak membawa kendaraan sendiri, alternatif satu-satunya adalah menggunakan jasa tukang ojek.

Setelah sekitar 15 menit terguncang di atas motor, kami sampai di gerbang masuk Taman Wisata Alam Curug Cijalu. Tiket masuknya enam ribu perak per orang. Ternyata lokasi curug masih jauh. Kami kembali menyusuri jalan yang semakin menanjak sekitar 5 menit lagi. Persis di pinggiran kebun teh pertama ojek berhenti. Kami melanjutkan perjalanan melewati hijaunya kebun teh sebelum tiba ke lokasi curug. Tidak ada orang lain yang berjalan kaki di sini selain kami. Beberapa orang mengendarai sepeda motor, sebagian lainnya dengan mobil yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari.


Sebagian jalan belum diaspal, masih menggunakan bongkahan-bongkahan batu. Lima menit berlalu sejak kami menyusuri kebun teh ketika di depan kami terdapat sebuah sungai kecil yang membelah jalan. Tidak ada jembatan. Sepeda motor dan mobil pun harus menyeberang perlahan. Beberapa warung minuman dan makanan ringan mulai nampak saat makin mendekati lokasi curug.



Cukup dengan menunjukkan tiket masuk yang kami bayar di gerbang pertama, kami memasuki kawasan curug yang menyatu dengan bumi perkemahan.


Jalan setapak dari bebatuan semakin menanjak. Kami berpapasan dengan rombongan wisatawan asing (lebih dari separuhnya adalah anak kecil). Di lokasi tersebut terdapat dua curug. Curug pertama yang kami temui tingginya sekitar 15 meter.



Tak jauh dari curug pertama kita akan disambut percikan air dari curug kedua yang terbawa angin. Curug ini lebih besar, sekitar 50 meter ketinggiannya. Waaaaahhhh... segar sekali. Coba tadi bawa baju ganti, kami pasti langsung nyemplung di kolam tempat jatuhnya air.



Sembari istirahat, saya menunjukkan sebuah artikel yang saya cetak dari sebuah blog, judulnya Tipuan Curug Cijalu. Dari artikel ini kita disadarkan bahwa ternyata banyak orang yang mengaku melihat Curug Cijalu padahal tidak! Yang mereka lihat adalah Curug Cikondang dan Curug Cilemper. Curug Cijalu terletak tak jauh dari situ, tapi harus dengan usaha ekstra untuk bisa mencapainya. (lebih lengkap silakan baca di sini). Kami pun sepakat mengikuti petunjuk dari artikel tersebut .

Pertama-tama kami harus kembali ke kebun teh menuju sungai yang membelah jalan sebagai titik awal pencarian. Itulah Sungai Cijalu. Kami pun mulai menyusuri sungai ini ke arah hulu. Terpaksa berbasah-basahan karena kami harus menyusuri sungai, benar-benar di sunginya, dengan melompati bebatuan besar. Sesekali terpeleset dan terantuk batu. Setelah 10 menit berlompatan di atas bebatuan sungai, jalan kami terhalang tanaman rambat di atas sungai. Untunglah ternyata kami menemukan sebuah jalan kecil di antara semak belukar. Beberapa kali jalan kecil itu berakhir di tepi sungai dan kami mau tidak mau kembali nyemplung ke sungai. Kami semakin jauh meninggalkan kebun teh di bawah sana.


Sepiiiiiii banget! Tidak ada tanda-tanda kehadiran manusia lain. Hanya kami berdua ditemani gemercik air, kicau burung, hembusan angin yang membelai dedaunan, serta beberapa suara serangga yang tak tampak. Ada binatang buas gak yah? Ada ular gak yah? Ada makhluk tak kasat kah? Huwaaaaaa... berbagai kemungkinan buruk sempat terlintas di pikiran. Akhirnya saya memaksa, kami harus kembali bila dalam satu jam tidak menemukan curug yang dimaksud.



Tiga puluh menit berlalu. Badan sudah semakin letih dan semakin sering terpeleset. Lutut pun mulai gemeteran. Kami menemukan sebuah curug kecil yang tingginya tak sampai 5 meter. Ketika kami di atas curug kecil itulah nampak kelebatan manusia-manusia tak jauh di bawah kami. Banyak. Dan sebagian besar masih anak-anak. Kami menunggu rombongan ini dan bergabung dengan mereka. Dengan mudahnya mereka berlompatan di atas batuan sungai. Huhuhuhuuuuu.... (ngiri.com)

Teriakan kegirangan anak-anak itu memberi tanda bahwa kami sudah tiba. Subhanallah... It's so amazing! Air terjun setinggi sekitar 100 meter diapit dinding karang yang terjal membuat saya merasa sangat kecil. Cantik sekaligus membuat ngeri. Lingkungannya masih alami seolah tak pernah tersentuh tangan-tangan jahil. Hanya rombongan kami yang ada di situ. Tak terbayang seandainya tidak bertemu dengan anak-anak ini. Pasti horor banget saking sepinya.


Setelah mengagumi kecantikan Curug Cijalu, kami kembali menyusuri sungai ke arah hilir. Anak-anak ini masih tetap lincah dan nyaris meninggalkan kami di belakang.


Perjalanan kembali tak lebih mudah dari saat kami berangkat. Apalagi tubuh sudah semakin kehilangan energi. Akhirnya, sampai juga kami di titik awal penjelajahan nekat ini dengan selamat. Alhamdulillah.

Oh ya, total perjalanan menyusuri sungai menuju Curug Cijalu yang sesungguhnya memakan waktu 40 menit. Tapi perjalanan kembali lebih cepat karena kami menemukan jalan yang benar, wkwkwkwkwk...


Setelah membersihkan celana, tangan dan kaki yang terkena tanah basah, kami pun pulang dengan hati riang. Tak ada pengojek yang ngetem di dekat kebun teh. Mau tidak mau kami harus berjalan kaki ke gerbang utama. Alhamdulillah sebelum sampai gerbang utama kami bertemu dengan 2 tukang ojek. Setelah negosiasi alot, disepakati mereka akan mengantar kami sampai ke Wanayasa dengan ongkos Rp.15.000/orang.

Dari Wanayasa kami kembali naik elf jurusan Cikampek dan turun di Pasar Rebo lalu dilanjutkan dengan angkot 02 sampai ke Sadang. Fyuuuuhhh.... benar-benar perjalanan yang menguras energi. Tapi semua terbayar lunas karena berhasil menyaksikan kecantikan Curug Cijalu. Cihuuuuyyyyyy....! :D


Catatan:
- Jangan ke sana saat musim penghujan, sungainya akan sulit dilalui
- Jangan ke sana pakai celana jeans, bikin berat kalo terkena air
- Lebih baik gunakan sepatu atau sandal gunung
- Khusus buat yang menyukai tantangan :p
- Hasil jalan-jalan: lebam di beberapa bagian kaki (saya), kaki dan tangan tergores duri semak (Adi)

Hari berikutnya, pagi-pagi ada sms dari Adi yang bunyinya seperti ini: Mb Mel, kata temenku yg udah menjelajah semua curug di subang, curug cijalu itu yang paling angker. Masih ada hewan buas. Ada makam keramat juga.

Kyaaaaaaaaaa......


Oh ya, hanya sejengkal dari Pasar Wanayasa terdapat Situ Wanayasa yang terletak persis di samping jalan besar. Kalau yang ini cocok untuk wisata keluarga.





Gambar terakhir ini (Curug Cijalu nampak dari jauh) diambil dari blognya mang oka yang berhasil membuat kami penasaran hingga akhirnya menemukan Curug Cijalu yang asli. Terima kasih banyak untuk Mang Oka. :D