Sunday, March 21, 2010

Skenario untuk Si Botak

Obrolan bisik-bisik di tengah rapat yang mulai memanas.

Miko: Mel, tau teroris yg digerebek di Aceh kemaren kan?
Melski: [ngangguk] Emang kenapa?
Miko: Lu tau gak dimana mereka beli senjata?
Melski: [nggeleng] Gak. Lu mau beli juga? [mulai menebak arah pembicaraan]
Miko: Ho oh. Buat nembak kepala si botak itu.

Beberapa menit berikutnya.

Miko: Eh, tapi keenakan dianya ntar kalo langsung mati. Mending gue silet-silet aja, abis itu gue kasih garam.
Melski: Lu silet-silet aja. Ntar biar gw yg nggaremin.
Miko: Boleh.. boleh...
Melski: Tapi musti ada yang megangin dia
Miko: Gak perlu. Kita gebukin dulu sampe pingsan, baru gue beraksi.
Melski: Sip.

Rapat masih panas. Atau AC-nya emang gak dinyalain yak?
Miko: Mel, lu bisa bantuin gue?
Melski: Ngapain?
Miko: Tolong bukain jendela dong.
Melski: Lu mau lompat?
Miko: Ya gak lah... Gue mo lempar si botak ke luar. Kalo dari lantai 15 bisa mati gak yah?
Melski: Mungkin. Yah, paling gak cacat seumur hidup lah.

Saved by the bell. Keluar ruang rapat karena ada "klien". Sebelumnya juga beberapa kali keluar masuk ruangan buat nerima telepon masuk. Setelah ketemu tamu gak balik ke ruang rapat, hehehe...

Rapat selesai juga dengan hasil yang gak jelas {katanya sih...} :p
Cingkriex: Payah.. payah..
Melski: Kenapa, mbah?
Cingkriex: Pada gak mau iuran sepuluh rebuan sih...
Melski: Buat apaan?
Cingkriex: Nyewa preman di Tenabang. Buat mukulin si botak.
Melski: [ngakak guling-guling] Makin banyak aja otak-otak kriminal di mari!


Pertanyaan:
Kalau niat berbuat baik langsung dicatat oleh malaikat (meski belum dilakukan), kalau niat berbuat jahat (tanpa ada maksud mewujudkannya) dicatat juga gak sih?

Inspirasi dari Amazing Adventures of A Nobody

Beberapa pekan yang lalu, tanpa sengaja saya menemukan sebuah acara menarik, Amazing Adventures of A Nobody, tengah diputar di B Channel. Dalam serial semi dokumenter ini, Leon (pemuda Inggris dengan logat British yang medok abis!) harus berkeliling Inggris hanya dengan 5 Pounds per hari. Dengan uang itu dia harus bisa membiayai makan, penginapan dan transportasi. Syarat lain pun membebani Leon. Dia harus melewati kota-kota yang telah ditentukan dan tidak boleh tinggal lebih dari 24 jam di kota yang sama. Dia dilarang menggunakan kartu kredit dan dilarang menerima uang dari orang lain. Leon harus mengandalkan kebaikan hati dari orang-orang asing yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Kalau saya bilang, ini cara backpacking yang benar-benar nekat.

Tak sedikit penolakan yang harus dihadapi Leon saat mencoba memohon kebaikan orang untuk memberinya makanan, memberikan tumpangan ke kota berikutnya, atau sekedar tempat menginap. Terkadang dia patah semangat dan merayu Nick sang sutradara atau kru yang lain untuk memberikan bantuan, meski hasilnya selalu nihil, dan dia terpaksa menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi ternyata masih banyak orang baik di luar sana yang rela berbagi makanan, memberikan tumpangan kendaraan atau membelikan tiket kereta/ bus, bahkan ada yang menyediakan sebuah kamar mewah di kastilnya. Pertolongan datang terkadang dari orang yang tidak kita sangka akan bermurah hati.
Perjalanan Leon mengelilingi Inggris dari London dan kembali lagi ke London (garis finishnya ada di pintu apartemen Leon) hanya dengan 5 Pounds per hari berhasil diselesaikan.

Percaya gak percaya dengan reality show ini, but it's really amazing and so inspiring! Bayangkan seandainya kita berada di posisi orang yang sedang dimintai tolong oleh orang asing sementara kita juga mempunyai urusan lain. Bisakah kita bermurah hati memberikan bantuan secara sukarela?

Tantangan berlanjut. Kini Leon harus mengelilingi AS, dimulai dari Time Square di NY dan akan berakhir di tulisan Hollywood gede di LA. Modalnya 5 Dollar per hari dengan peraturan yang sama saat dia harus berkeliling Inggris dengan 5 Pounds. Di negara yang bukan tanah airnya, tantangan menjadi semakin banyak. Bahkan tak jarang logat Britishnya menjadi salah satu kendala. Berhasilkah Leon menyelesaikan perjalanannya? Sampai tulisan ini di-posting, perjalanan Leon belum berakhir tetapi dia makin mendekati tujuan akhirnya, Hollywood.

Tertarik mengikutinya? Silakan mampir ke B Channel setiap hari Senin-Jumat pukul 18.30 WIB. :D


Catatan: gara-gara nonton acara ini, keinginan buat sering-sering backpacking semakin menggila, mumpung belum ada yang ngrusuhi, hehehe....

First stop: Bandung

Thursday, October 22, 2009

Coret-coret Gak Jelas

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel yang cukup menarik. Di situ disebutkan bahwa orang yang suka membuat coretan-coretan tidak jelas (saat di kelas, rapat, dan sejenisnya) mempunyai daya ingat yang kuat. Hal ini dikarenakan kegiatan coret-coret tak jelas tersebut mencegah seseorang dari melamun. Berdasarkan penelitian, kegiatan coret-coret ini meningkatkan kewaspadaan otak karena otak akan terus aktif, sedangkan melamun hanya akan membuyarkan konsentrasi.

Hmmm.... Karena penasaran akhirnya saya coba mengintip agenda yang selalu menemani saya saat rapat. Seingat saya, hampir setiap rapat saya membuat coret-coret di sana-sini. And... here they are!






^ini sebagian coret-coret yg ada di agenda, ada juga yang tercecer di lembaran-lembaran kertas.^

Kegiatan gak jelas ini biasanya terjadi saat pembahasan dalam rapat mulai membosankan atau saya mulai terserang penyakit berbahaya, ngantuk! :D
Lumayanlah... artinya saya tidak membiarkan otak ini berhenti bekerja tetapi mengasahnya agar selalu waspada, hehehehe.


Catatan:
Tulisan gak penting nih, biar kesannya ada tulisan aja bulan ini... wkwkwkwkwk.

Monday, September 14, 2009

Tips Mengatasi Migrain (Harus dengan Petunjuk Dokter!)

Fyuh... lagi-lagi sakaw karena migrain. Sudah lebih dari sepuluh tahun penyakit ini bercokol di kepala saya. Saking seringnya sakit kepala sebelah ini melancarkan serangan mendadak, saya menjadi lebih siap dalam menyusun strategi penumpasannya. :D

Sayangnya, pertahanan saya sedang lemah saat musuh bebuyutan ini menyerang di suatu sore beberapa hari yang lalu. Serangan itu mulai terasa saat saya masih berada di kantor. Bukan sebuah serangan hebat tapi cukup membuat saya mundur beberapa langkah karena tak dapat melancarkan serangan balasan. Senjata saya tak dapat digunakan saat itu juga. Masih harus menunggu beberapa jam lagi hingga waktu berbuka tiba untuk melontarkan sebutir aspirin.

Perut kosong. Sakit kepala sebelah. Perut mual. Kondisi tubuh sudah semakin menurun saat adzan Maghrib berkumandang. Setelah mengganjal perut dengan sedikit makanan saya mencari aspirin di kotak obat. Oh God... saya tak menemukan satu pun senjata andalan itu. Masih berusaha mencari di antara obat-obat lainnya, saya mulai limbung. Keringat dingin mulai bercucuran. Jemari tangan yang mengaduk-aduk kotak obat mulai gemetar. Sepertinya mulai sakaw nih, pikir saya saat itu. Tiba-tiba saya teringat bahwa saya selalu menyimpan aspirin di tas yang setiap hari menemani saya ke kantor. Alhamdulillah masih ada empat butir. Saya pun langsung menelan sebutir. Strategi berikutnya, kerokan! Hanya di daerah tengkuk untuk meringankan ketegangan yang timbul. Mata semakin tak bisa bertahan karena terkena cahaya. Saya pun memutuskan tidur dan berharap musuh juga mundur.

Esoknya serangan itu berkurang tekanannya. Tapi rupanya musuh ini belum menyerah. Mereka kembali melancarkan serangan di pertengahan hari, bahkan dengan serangan yang lebih hebat. Alhasil, hingga jam pulang tiba saya tak lagi bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan. Saya pun teringat bahwa salah satu ritual pengusir migrain tidak saya lakukan semalam. Sudah menjadi sugesti, apabila hal itu luput saya lakukan saat migrain menyerang, dalam beberapa hari pasti akan ada serangan berikutnya.

Begitu waktu berbuka tiba saya mengulangi ritual hari sebelumnya ditambah salah satu hal penting yang terlupa.

1. makan dulu lah...
2. minum sebutir aspirin
3. minum kopi tubruk    <<=== ini dia yang terlewat!
4. kerokan di daerah tengkuk
5. tidur dalam gelap

Alhamdulillah, esok paginya saya bangun dalam kondisi segar tanpa sedikitpun sisa-sisa migrain. Harus diperhatikan, tips ini mungkin tak bekerja dengan cara yang sama pada orang yang berbeda mengingat ada dua bahan yang seharusnya tidak boleh dikonsumsi dalam waktu bersamaan (aspirin dan kafein). But they've done the best to me! :D

Catatan: silakan mampir ke sini dan ke sini untuk mengetahui lebih banyak tentang migrain dan aspirin.

Wednesday, September 2, 2009

Laporan Gempa dari Ridwan Rais

Saya baru saja merasakan getaran aneh ketika salah satu rekan di ruangan berteriak "GEMPAAAA...!" Mengira ini hanya berlangsung sekejap, kami masih menimbang-nimbang apakah akan tetap tinggal di ruangan atau mengevakuasi diri keluar gedung. Bukannya mereda, goncangan justru makin terasa. Sebagian teman langsung lari keluar ruangan. Kami yang masih berada di ruangan segera merapat ke dinding. Lafaz dzikir mengalir dari bibir kami. Saya pun pasrah, menyerahkan segalanya kepada Yang Di Atas. Di sini, di lantai 14 ini, guncangan serasa hampir membuat gedung ini runtuh. Lutut lemas. Setengah mati berusah menahan agar air mata tak mengalir. Saya masih merapat ke dinding. Saat guncangan reda kami langsung menyambar tas dan keluar ruangan karena takut terjadi gempa susulan. Sejenak ragu, kami akhirnya memberanikan diri menggunakan lift daripada turun melalui tangga darurat. Alhamdulillah tak ada insiden apapun dan kami bergabung dengan seluruh penghuni gedung berlantai 16 ini.


Beginilah suasana di depan gedung tak lama setelah saya berhasil menenangkan diri. Sebuah pesan singkat masuk, dari Arin, yang mengabarkan bahwa Tegal juga diguncang gempa. Ternyata gempa yang lumayan dahsyat ini berpusat di sebelah barat daya Tasikmalaya di kedalaman 30m. 7.3 skala Richter kekuatannya. Nyaris seluruh Pulau Jawa merasakan efek dari gempa ini. Allahu Akbar.

Kami baru berani masuk gedung setengah jam kemudian, itupun hanya di lantai 1 sembari melihat liputan mengenai gempa di televisi. Saya kembali ke ruangan di lantai 14 untuk mengambil jaket dan mengirim file yang baru saya selesaikan sesaat sebelum gempa. Ternyata di beberapa bagian terdapat sedikit kerusakan akibat gempa, antara lain di dekat ruang tamu dan di tengah-tengah ruangan. Retakan dinding menjalar dari langit-langit hingga lantai. Ini patut dipertanyakan karena gedung ini belum genap berumur satu tahun. Baru mulai digunakan awal Desember tahun lalu dan baru diresmikan penggunaannya bulan Maret tahun ini. Kalau kondisi bangunan rawan seperti ini bagaimana kami bisa tenang bekerja dan menggali potensi penerimaan sementara nyawa kami jadi taruhannya???

Harusnya para petinggi itu tak hanya menekan kami dengan permintaan yang selalu berubah tiap saat, dengan target yang nyaris di awang-awang tapi harus dicapai, dengan segala tetek bengek laporan ABS. Sementara timbal baliknya? Nyaris tak ada. Hanya tunjangan berdasarkan renumerasi saja yang membuat kami bertahan. Mbok yo keselamatan kami juga dijamin... Anggaran untuk proyek pembangunan mbok yo jangan di-tilep juga. :D