Thursday, October 22, 2009

Coret-coret Gak Jelas

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel yang cukup menarik. Di situ disebutkan bahwa orang yang suka membuat coretan-coretan tidak jelas (saat di kelas, rapat, dan sejenisnya) mempunyai daya ingat yang kuat. Hal ini dikarenakan kegiatan coret-coret tak jelas tersebut mencegah seseorang dari melamun. Berdasarkan penelitian, kegiatan coret-coret ini meningkatkan kewaspadaan otak karena otak akan terus aktif, sedangkan melamun hanya akan membuyarkan konsentrasi.

Hmmm.... Karena penasaran akhirnya saya coba mengintip agenda yang selalu menemani saya saat rapat. Seingat saya, hampir setiap rapat saya membuat coret-coret di sana-sini. And... here they are!






^ini sebagian coret-coret yg ada di agenda, ada juga yang tercecer di lembaran-lembaran kertas.^

Kegiatan gak jelas ini biasanya terjadi saat pembahasan dalam rapat mulai membosankan atau saya mulai terserang penyakit berbahaya, ngantuk! :D
Lumayanlah... artinya saya tidak membiarkan otak ini berhenti bekerja tetapi mengasahnya agar selalu waspada, hehehehe.


Catatan:
Tulisan gak penting nih, biar kesannya ada tulisan aja bulan ini... wkwkwkwkwk.

Monday, September 14, 2009

Tips Mengatasi Migrain (Harus dengan Petunjuk Dokter!)

Fyuh... lagi-lagi sakaw karena migrain. Sudah lebih dari sepuluh tahun penyakit ini bercokol di kepala saya. Saking seringnya sakit kepala sebelah ini melancarkan serangan mendadak, saya menjadi lebih siap dalam menyusun strategi penumpasannya. :D

Sayangnya, pertahanan saya sedang lemah saat musuh bebuyutan ini menyerang di suatu sore beberapa hari yang lalu. Serangan itu mulai terasa saat saya masih berada di kantor. Bukan sebuah serangan hebat tapi cukup membuat saya mundur beberapa langkah karena tak dapat melancarkan serangan balasan. Senjata saya tak dapat digunakan saat itu juga. Masih harus menunggu beberapa jam lagi hingga waktu berbuka tiba untuk melontarkan sebutir aspirin.

Perut kosong. Sakit kepala sebelah. Perut mual. Kondisi tubuh sudah semakin menurun saat adzan Maghrib berkumandang. Setelah mengganjal perut dengan sedikit makanan saya mencari aspirin di kotak obat. Oh God... saya tak menemukan satu pun senjata andalan itu. Masih berusaha mencari di antara obat-obat lainnya, saya mulai limbung. Keringat dingin mulai bercucuran. Jemari tangan yang mengaduk-aduk kotak obat mulai gemetar. Sepertinya mulai sakaw nih, pikir saya saat itu. Tiba-tiba saya teringat bahwa saya selalu menyimpan aspirin di tas yang setiap hari menemani saya ke kantor. Alhamdulillah masih ada empat butir. Saya pun langsung menelan sebutir. Strategi berikutnya, kerokan! Hanya di daerah tengkuk untuk meringankan ketegangan yang timbul. Mata semakin tak bisa bertahan karena terkena cahaya. Saya pun memutuskan tidur dan berharap musuh juga mundur.

Esoknya serangan itu berkurang tekanannya. Tapi rupanya musuh ini belum menyerah. Mereka kembali melancarkan serangan di pertengahan hari, bahkan dengan serangan yang lebih hebat. Alhasil, hingga jam pulang tiba saya tak lagi bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan. Saya pun teringat bahwa salah satu ritual pengusir migrain tidak saya lakukan semalam. Sudah menjadi sugesti, apabila hal itu luput saya lakukan saat migrain menyerang, dalam beberapa hari pasti akan ada serangan berikutnya.

Begitu waktu berbuka tiba saya mengulangi ritual hari sebelumnya ditambah salah satu hal penting yang terlupa.

1. makan dulu lah...
2. minum sebutir aspirin
3. minum kopi tubruk    <<=== ini dia yang terlewat!
4. kerokan di daerah tengkuk
5. tidur dalam gelap

Alhamdulillah, esok paginya saya bangun dalam kondisi segar tanpa sedikitpun sisa-sisa migrain. Harus diperhatikan, tips ini mungkin tak bekerja dengan cara yang sama pada orang yang berbeda mengingat ada dua bahan yang seharusnya tidak boleh dikonsumsi dalam waktu bersamaan (aspirin dan kafein). But they've done the best to me! :D

Catatan: silakan mampir ke sini dan ke sini untuk mengetahui lebih banyak tentang migrain dan aspirin.

Wednesday, September 2, 2009

Laporan Gempa dari Ridwan Rais

Saya baru saja merasakan getaran aneh ketika salah satu rekan di ruangan berteriak "GEMPAAAA...!" Mengira ini hanya berlangsung sekejap, kami masih menimbang-nimbang apakah akan tetap tinggal di ruangan atau mengevakuasi diri keluar gedung. Bukannya mereda, goncangan justru makin terasa. Sebagian teman langsung lari keluar ruangan. Kami yang masih berada di ruangan segera merapat ke dinding. Lafaz dzikir mengalir dari bibir kami. Saya pun pasrah, menyerahkan segalanya kepada Yang Di Atas. Di sini, di lantai 14 ini, guncangan serasa hampir membuat gedung ini runtuh. Lutut lemas. Setengah mati berusah menahan agar air mata tak mengalir. Saya masih merapat ke dinding. Saat guncangan reda kami langsung menyambar tas dan keluar ruangan karena takut terjadi gempa susulan. Sejenak ragu, kami akhirnya memberanikan diri menggunakan lift daripada turun melalui tangga darurat. Alhamdulillah tak ada insiden apapun dan kami bergabung dengan seluruh penghuni gedung berlantai 16 ini.


Beginilah suasana di depan gedung tak lama setelah saya berhasil menenangkan diri. Sebuah pesan singkat masuk, dari Arin, yang mengabarkan bahwa Tegal juga diguncang gempa. Ternyata gempa yang lumayan dahsyat ini berpusat di sebelah barat daya Tasikmalaya di kedalaman 30m. 7.3 skala Richter kekuatannya. Nyaris seluruh Pulau Jawa merasakan efek dari gempa ini. Allahu Akbar.

Kami baru berani masuk gedung setengah jam kemudian, itupun hanya di lantai 1 sembari melihat liputan mengenai gempa di televisi. Saya kembali ke ruangan di lantai 14 untuk mengambil jaket dan mengirim file yang baru saya selesaikan sesaat sebelum gempa. Ternyata di beberapa bagian terdapat sedikit kerusakan akibat gempa, antara lain di dekat ruang tamu dan di tengah-tengah ruangan. Retakan dinding menjalar dari langit-langit hingga lantai. Ini patut dipertanyakan karena gedung ini belum genap berumur satu tahun. Baru mulai digunakan awal Desember tahun lalu dan baru diresmikan penggunaannya bulan Maret tahun ini. Kalau kondisi bangunan rawan seperti ini bagaimana kami bisa tenang bekerja dan menggali potensi penerimaan sementara nyawa kami jadi taruhannya???

Harusnya para petinggi itu tak hanya menekan kami dengan permintaan yang selalu berubah tiap saat, dengan target yang nyaris di awang-awang tapi harus dicapai, dengan segala tetek bengek laporan ABS. Sementara timbal baliknya? Nyaris tak ada. Hanya tunjangan berdasarkan renumerasi saja yang membuat kami bertahan. Mbok yo keselamatan kami juga dijamin... Anggaran untuk proyek pembangunan mbok yo jangan di-tilep juga. :D

Tuesday, August 25, 2009

Susah Cari Tiket Kereta Buat Mudik? Coba Cara Ini...

Sebuah pemandangan khas menjelang Ramadhan tertangkap mata saya tak lama setelah menginjakkan kaki di stasiun Gambir malam itu di hari perayaan kemerdekaan negeri ini yang ke-64. Lebih dari dua puluh orang duduk bersila sambil bercengkrama dengan kawannya di seluruh jalur antrian di depan loket pemesanan tiket. Sebagian telah lelap dalam tidurnya. Mereka rela menginap di depan loket “hanya” untuk mendapatkan selembar tiket kereta api untuk pemberangkatan tanggal 17 September 2009 meski loket baru akan dibuka pukul 07.00 WIB esok harinya.

Yah, sistem pembelian tiket secara online di banyak stasiun membuat tiket kereta api laris manis bak kacang goreng. Terlebih lagi setelah dua tahun terakhir PT. KAI bekerja sama dengan delapan biro perjalanan untuk melayani pembelian tiket secara online. Sistem pembelian yang dibuka pada H-30 sebelum keberangkatan ini membuat banyak calon pembeli yang harus gigit jari karena tiket untuk hampir semua jurusan langsung ludes hanya dalam waktu sekitar 10 menit setelah loket dibuka. Tak masuk akal memang.

Anggaplah ada 50 loket yang dibuka di seluruh Pulau Jawa. Masing-masing orang hanya dapat membeli paling banyak dua tiket. Lama transaksi di depan loket diasumsikan selama satu menit per orang. Pada menit pertama akan terjual 100 tiket untuk seluruh kereta api kelas bisnis dan eksekutif. Satu rangkaian kereta api bisa mengangkut sekitar 500 penumpang dan untuk setiap jalur (utara dan selatan) PT. KAI telah menyediakan sekitar 10 rangkaian kereta. Artinya dalam satu hari PT. KAI bisa mengangkut sekitar 10.000 penumpang. Kalau dalam satu menit terjual 100 tiket, maka dalam 10 menit diperkirakan terjual 1.000 tiket. Tapi mengapa bisa langsung habis? Kemana 9.000 tiket lainnya?

^Ah, ini mah hitung-hitungan kasar saja. Datanya pun tidak akurat.^


Salah satunya ada di tangan saya. Tanpa repot-repot mengantri saya berhasil mendapatkan tiket untuk mudik lebaran tahun ini. Dua tahun terakhir saya menggunakan jasa “orang dalam” untuk memperoleh tiket terutama di saat lebaran dan akhir pekan yang panjang. Sebut saja namanya Om Budi. Beliau adalah salah satu pegawai PT. KAI yang bertugas di stasiun Tegal. Sehari sebelum loket dibuka untuk keberangkatan yang dimaksud, Bapak menitipkan sejumlah uang kepada beliau sebesar harga tiket ditambah Rp.50.000 sebagai uang terima kasih. Alhasil, tiket yang menjadi barang langka itu dapat dengan mudah ada digenggaman. :D

Ada yang menarik saat saya sempat dilanda kepanikan dua hari yang lalu. Minggu siang itu, 23 Agustus 2009, saya tiba-tiba tersadar bahwa saya harus berburu tiket untuk balik ke Jakarta tanggal 23 September 2009. Saya sedang berada di Purwakarta saat itu. Saya langsung meminta Bapak memesan tiket di stasiun Tegal. Tak lebih dari lima belas menit berikutnya saya menerima kabar bahwa tiket untuk tanggal tersebut telah terjual habis. Waduh... pasrah deh. Kalau terpaksa naik bus juga deh. :-(

Malam harinya, masih di hari Minggu itu, saya baru menyadari bahwa telah terjadi suatu kesalahan fatal! Seharusnya tiket untuk 23 September kan baru bisa dibeli besok pas tanggal 24 Agustus. Lalu kenapa petugas di loket mengatakan bahwa tiket telah habis? Harusnya kan dia memberitahukan bahwa tiket yang dimaksud baru bisa dibeli besok. Permainan apa pula ini? Aaaarrrrrggghhhhh....!!! Menyadari hal ini, saya kembali meminta bantuan Om Budi untuk memesan tiket tanggal 23 September. Tentu saja, berhasil! :D

Apakah ini sebuah pelanggaran? Entahlah. Yang penting saya bisa mudik dengan menggunakan moda transportasi paling favorit ini. Coba ada rute penerbangan Jakarta-Tegal, saya mungkin lebih memilih itu, hehehehe....




Terima Kasih, Malaysia

Berbagai hujatan dan kecaman yang ditujukan kepada salah satu negeri jiran ini datang dari segala penjuru tanah air. Pemicunya adalah sepenggal iklan pariwisata berjudul Enigmatic Malaysia yang ditayangkan Discovery Channel. Dalam iklan ini nampak bahwa salah satu budaya andalan Indonesia dari Bali, Tari Pendet, ditampilkan seolah-olah itu adalah budaya Malaysia. Sontak semua orang meradang dengan pengaku-akuan dari Malaysia ini. Teriakan "Ganyang Malaysia" kembali sering terdengar.

Tak hanya kali ini Malaysia mengakui warisan budaya Indonesia sebagai budaya dari negeri mereka. Masih lekat dalam ingatan kita saat Malaysia mengklaim Reog yang selama ini kita kenal berasal dari Ponorogo, Jawa Timur, hingga lebih beken dengan nama Reog Ponorogo. Tak hanya itu. Alat musik Angklung dari Tanah Parahiyangan menjadi korban berikutnya. Batik pun tak luput dari klaim negara tetangga ini. Entah berapa banyak lagi.

Tapi saya justru ingin berterima kasih kepada Malaysia karena telah mengingatkan kita bahwa Indonesia kaya akan warisan budaya. Selama ini rakyat Indonesia, terutama generasi mudanya, terlena dengan makin maraknya budaya dari luar khususnya dunia Barat. Mereka lebih bangga bila dianggap kebarat-baratan dan mereka merasa malu untuk melestarikan budaya dari nenek moyangnya. Kemudian saat negara lain mengakui budaya Indonesia sebagai budaya mereka, orang-orang ini langsung menghujat dan mengecam, berlagak seolah mereka yang paling peduli dengan warisan budaya bangsa. Selama ini kemana saja???

Semoga ini menjadi pelajaran terakhir bagi kita. Semoga Pemerintah tak hanya berbasa-basi untuk melindungi seluruh warisan budaya Indonesia. Kita tak butuh segala macam hujatan dan kecaman, yang kita butuhkan tindakan nyata untuk melindungi dan melestarikan warisan ini.